RSS

Uji Tuberkulin

18 Mar

Uji tuberkulin (tuberculin skin test/TST) merupakan alat diagnostik yang sampai saat ini mempunyai sensitivitas dan spesifisitas cukup tinggi untuk mendiagnosis adanya infeksi tuberkulosis. Pertama kali Robert Koch membuat filtrat dari kultur Mycobacterium tuberculosis dengan tujuan sebagai terapi. Pada penerapannya, tenyata pemberian tuberkulin yang bertujuan menyembuhkan menimbulkan reaksi sistemik seperti demam, nyeri otot, mual dan muntah sedangkan mereka yang tidak sakit tidak menunjukkan reaksi tersebut. Akhirnya pada perkembangannya tuberkulin digunakan sebagai alat diagnostik dengan mengaplikasikannya secara lokal untuk mencegah reaksi sistemik.

Metode pemberian tuberkulin pada kulit secara lokal yang pernah banyak dikerjakan:

§ Menggores / cutaneous scratch (Von Pirquet)

§ Menempel / percutaneous patch (Moro)

§ Aplikasi konjungtiva (Calmette)

§ Multiple puncture (Tine yang menggunakan 4 jarum dan Heaf yang menggunakan 6 jarum)

§ Intrakutan (Mantoux)

Uji tuberkulin cara Mantoux pada akhirnya lebih banyak digunakan secara luas oleh karena lebih reprodusibel. Pada tulisan ini yang akan dibahas secara detil adalah uji tuberkulin cara Mantoux atau lebih mudah disebut tes Mantoux atau uji Mantoux.

Jenis-jenis dan kekuatan tuberkulin

Tuberkulin pertama yang dibuat oleh Köch disebut dengan Old Tuberculin (OT). Kemudian tahun 1930-an Florence Seibert membuat presipitasi dari OT dengan asam trikloroasetat dan amonium sulfat serta menamakannya purified protein derivative (PPD) . PPD terdiri dari beberapa komponen antigenik dengan lebih sedikit karbohidrat dibandingkan OT sehingga memperkecil reaksi hipersensitivitas yang non-spesifik. PPD inilah yang sekarang banyak digunakan. Berdasarkan potensinya, kekuatan tuberkulin terbagai menjadi 3 yaitu : first strength, intermediate strength dan second strength.

Kekuatan yang mempunyai sensitivitas dan spesifisitas paling baik sehingga banyak dipakai adalah intermediate strength. Penggunaan first dan second strength dilakukan pada kondisi-kondisi tertentu.

Strength

PPD S

Seibert

PPD RT23

first

1 TU

1 TU

intermediate

(standard dose)

5-10 TU

2-5 TU

second

250 TU

100 TU

Penemuan lain yang menyempurnakan penggunaan tuberkulin sebagai alat diagnostik adalah Tween, bahan detergen yang berguna untuk mencegah adsorbsi tuberkulin terhadap kaca atau syringe plastik.

Prinsip Dasar

Setelah seseorang terinfeksi kuman mycobacteria, sel limfosit T akan berproliferasi dan menjadi tersensitisasi. Sel T yang tersensitisasi masuk ke dalam aliran darah dan bersirkulasi selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Proses sensitisasi ini terjadi pada kelenjar getah bening regional dan memerlukan waktu 2-12 minggu setelah infeksi. Sekali terinfeksi, maka sensitisasi terhadap tuberkulin akan menetap. Injeksi tuberkulin pada kulit akan menstimulasi sel-sel limfosit dan terjadi aktivasi rentetan kejadian yang termasuk dalam respon hipersensitivitas tipe lambat (delayed-type hypersensitivity/DTH). Respons ini dikatakan lambat oleh karena reaksi memerlukan waktu berjam-jam. Reaktivitas kulit mencakup vasodilatasi, edema, infiltrasi sel-sel limfosit, basofil, monosit dan netrofil ke lokasi suntikan. Antigen-spesific limfosit T akan berproliferasi dan melepaskan limfokin, yang akan mengundang akumulasi sel-sel alin ke lokasi suntikan. Terjadilah indurasi yang mencerminkan aktivitas DTH. Pada pasien yang sudah pernah terinfeksi, DTH muncul setelah 5-6 jam dan kebanyakan mencapai indurasi maksimal 48-72 jam.

Cara Melakukan Uji Tuberkulin Metode Mantoux (tes Mantoux)

1. Siapkan 0,1 ml PPD ke dalam disposable spuit ukuran 1 ml (3/8 inch 26-27 gauge)

2. Bersihkan permukaan lengan volar lengan bawah menggunakan alcohol pada daerah 2-3 inch di bawah lipatan siku dan biarkan mengering

3. Suntikkan PPD secara intrakutan dengan lubang jarum mengarah ke atas. Suntikan yang benar akan menghasilkan benjolan pucat, pori-pori tampak jelas seperti kulit jeruk, berdiameter 6-10 mm

4. Apabila penyuntikan tidak berhasil (terlalu dalam atau cairan terbuang keluar) ulangi suntikan pada tempat lain di permukaan volar dengan jarak minimal 4 cm dari suntikan pertama.

5. Jangan lupa mencatat lokasi suntikan yang berhasil tersebut pada rekam medis agar tidak tertukar saat pembacaan. Tidak perlu melingkari benjolan dengan pulpen/spidol karena dapat mengganggu hasil pembacaan.

Catatan

§ Perhatikan cara penyimpanan PPD sesuai petunjuk pada kemasan

§ PPD aman bayi berapapun usianya bahkan aman pula bagi wanita hamil

§ Tes Mantoux bukan merupakan kontra indikasi bagi:

· Pasien yang pernah diimunisasi BCG

· Pasien yang pernah dilakukan tes Mantoux sebelumnya dan hasilnya positif (dalam hal ini pengulangan diperlukan karena hasil tes Mantoux sebelumnya tidak tercatat dengan baik)

· Pasien sedang dalam kondisi demam, sakit, maupun pasien dengan imunokompromais

§ Adanya parut yang besar pada bekas tes Mantoux sebelumnya merupakan petunjuk hasil positif pada tes terdahulu dan tidak perlu diulang. Namun perlu ditekankan bahwa tes Mantoux menggunakan PPD dan bukan vaksin BCG.

Pembacaan

1. Hasil tes Mantoux dibaca dalam 48-72 jam, lebih diutamakan pada 72 jam

· Minta pasien control kembali jika indurasi muncul setelah pembacaan

· Reaksi positif yang muncul setelah 96 jam masih dianggap valid

· Bila pasien tidak control dalam 96 jam dan hasilnya negative maka tes Mantoux harus diulang.

2. Tentukan indurasi (bukan eritem) dengan cara palpasi

3. Ukur diameter transversal terhadap sumbu panjang lengan dan catat sebagai pengukuran tunggal

4. Catat hasil pengukuran dalam mm (misalnya 0 mm, 10 mm, 16 mm) serta catat pula tanggal pembacaan dan bubuhkan nama dan tandatangan pembaca

5. Apabila timbul gatal atau rasa tidak nyaman pada bekas suntikan dapat dilakukan kompres dingin atau pemberian steroid topikal

Catatan:

Reaksi hipersensitivitas terhadap tuberkulin yang munculnya cepat (immediate hypersensitivity reactions) dapat timbul segera setelah suntikan dan biasanya menghilang dalam 24 jam. Hal ini tidak mempunyai arti dan bukan menunjukkan hasil yang positif.

clip_image002

Interpretasi

Tes Mantoux dinyatakan positif apabila diameter indurasi > 10 mm. Kemungkinan yang perlu dipikirkan pada anak dengan hasil tersebut:

§ Terinfeksi tuberkulosis secara alamiah

§ Infeksi TB mencakup infeksi TB laten, sakit TB aktif, atau pasca terapi
TB.

§ Pernah mendapat imunisasi BCG (pada anak dengan usia kurang dari 5 tahun)

§ Pada pasien usia kurang dari 5 tahun dengan riwayat vaksinasi BCG kecurigaan ke arah infeksi alamiah TB bila hasil uji Mantoux > 15 mm.

§ Infeksi mikobakterium atipik

Meskipun demikian, hasil uji Mantoux > 5 mm dapat dipertimbangkan positif pada pasien tertentu seperti :

§ Pasien dengan infeksi HIV

§ Pasien dengan transplantasi organ atau mendapat imunosupresan jangka panjang seperti pasien keganasan atau sindrom nefrotik

False Negative

Pasien-pasien tertentu yang terinfeksi tuberkulosis mungkin dapat menunjukkan hasil tes Mantoux yang negatif. Kondisi demikian disebut dengan anergi. Anergi kemungkinan terjadi pada pasien:

§ Pasien dengan status malnutrisi berat

§ Pasien dengan infeksi berat seperti campak, cacar air, pertusis, difteri, tifoid

§ Pasien dengan status imunokompromasi atau pasien menggunakan imunosupresan jangka panjang seperti pasien HIV, keganasan, sindrom nefrotik dan lainnya

§ Pasien dengan sakit TB berat seperti TB milier, meningitis TB

Mengingat masa yang diperlukan untuk terbentuknya cellular mediated immunity sejak masuknya kuman TB adalah 2-12 minggu maka hasil negatif pada pasien dengan kontak erat penderita TB dewasa masih mungkin pasien sedang dalam masa inkubasi.

Daftar Pustaka

1. Bass JB. The tuberculin skin test. Am Rev Respir Dis.

2. Martin P. Mantoux Testing. Guideline for tuberculosis control in New Zealand 2003. h.6-18.

3. Rieder HL. The potency of tuberculin PPD RT23. Int J Tuberc Lung Dis 2001;5:783-6.

4. Reichman LB, Andriote JM. Guidelines for the diagnosis of latent tuberculosis infection. Nationals Tuberculosis Centre, New Jersey, 1999.

5. Villar AF, Goris A, Otero M, Choucino N, Vazquez R, Munoz MJ, et al. Conservation of purified protein derivative RT-23 tuberculin. Arch Bronconeumol 2004;40:301-3.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 18, 2009 in Uncategorized

 

2 responses to “Uji Tuberkulin

  1. mita

    Maret 27, 2011 at 7:20 pm

    makasih share ilmunya. kebetulan besok saya harus ngajarin mahasiswa cara tuberkulin tes..sementara saya sendiri sudah lupa🙂

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: