RSS

PENCEGAHAN SERANGAN ASMA PADA ANAK

18 Mar

Serangan asma pada anak dapat jarang dan dapat sering terjadi, dapat ringan dan dapat berat bahkan sampai mengancam jiwa.

Mengatasi serangan asma merupakan hal yang sangat penting, akan tetapi usaha untuk mencegah terjadinya serangan adalah jauh lebih baik untuk dilakukan.

Pencegahan serangan asma pada anak terdiri atas :

1. Menghindari factor pencetus

2. Penggunaan obat atau tindakan untuk meredakan atau mengurangi reaksi yang akan atau sudah ditimbulkan oleh factor pencetus.

Dengan kata lain, pencegahan serangan asma adalah mencoba mengusahakan keadaan remisi selama mungkin.

Asma adalah suatu keadaan sesak nafas yang penyebabnya tidak selalu diketahui dengan jelas dan dipengaruhi oleh banyak faktor yang berdiri sendiri atau saling berkaitan.

Akan tetapi dalam banyak hal, faktor alergi atau imunologi diketahui paling banyak berpengaruh atau mendasari terjadinya asma.

Asma brokial pada anak ditemukan sekitar 3-9% dari populasi.

Pada serangan akut penderita tampak ketakutan, dimana hal ini justru akan menambah sesak nafas penderita. Sedang pada status asmatikus penderita akan tampat semakin gelisah dan banyak keluar keringat.

GAMBARAN KLINIK ASMA PADA ANAK

Dengan mengetahui gambaran klinik asma pada anak, maka dapat dilihat seberapa jauh usaha yang harus dilakukan untuk mencegah serangan asma.

1. ASMA EPISODIK YANG JARANG

Biasanya terdapat pada anak berumur 3-8 tahun. Serangan umumnya dicetuskan oleh infeksi virus pada saluran pernafasan bagian atas.

Gejala klinik menonjol pada malam hari. Mengi (wheezing) dapat berlangsung 3-4 hari. Di luar serangan tidak ditemukan kelainan.

Waktu remisi dapat berlangsung berminggu minggu bahkan berbulan-bulan.

Tumbuh kembang anak biasanya tetap berjalan normal.

2. ASMA EPISODIK YANG SERING

Serangan pertama terjadi sebelum anak berumur 3 tahun, dan dicetuskan oleh infeksi saluran pernafasan akut.

Pada umur 5-6 tahun dapat terjadi serangan tanpa ada infeksi yang jelas. Orang tua penderita biasanya menghubungkan dengan perubahan cuaca, adanya alergen, aktivitas fisik dan stress.

Frekwensi serangan paling tinggi terjadi pada umur 8-13 tahun.

Pada umumnya serangan semakin memburuk pada malam hari, batuk dan mengi dapat menambah beban si anak.

Kalau waktu antara serangan 1-2 minggu, pada pemeriksaan fisik biasanya tidak ditemukan kelainan.

Jarang ditemukan gangguan pertumbuhan dan perkembangan penderita.

3. ASMA KRONIK ATAU PERSISTEN

Pada 25% anak golongan ini, serangan pertama terjadi sebelum umur 6 bulan, dan 75 % sebelum umur 3 tahun. 50% anak terdapat mengi yang lama pada 2 tahun pertama, sementara 50 % yang lain serangan bersifat episodik.

Pada umur 5-6 tahun akan jelas terjadi obstruksi saluran nafas persisten. Hampir selalu terdapat mengi setiap hari dan pada malam hari sering terganggu oleh batuk mengi, begitujuga aktivitas fisik sering menyebabkan mengi. Kadang-kadang muncul serangan yang cukup berat, biasanya terjadi pada umur 8-14 tahun, dan setelahnya bisa terjadi perbaikan.

Pada umur dewasa muda, 50% golongan ini tetap menderita asma persisten, jarang yang betul-betul bebas dari mengi.

Pada pemeriksaan fisik jarang yang normal. Dapat terjadi perubahan bentuk thorak, seperti dada burung (pigeon chest, barrel chest). Dapat juga terjadi gangguan pertumbuhan

VARIAN DARI BENTUK ASMA

1. ASMA EPISODIK BERAT DAN BERULANG

Dapat terjadi pada semua umur, tetapi biasanya pada anak umur sebelum sekolah. Serangan biasanya berat dan sering memerlukan perawatan rawat inap.

Biasanya berhubungan dengan infeksi virus di saluran nafas atas. Di luar serangan biasanya normal, tanda-tanda alergi tidak menonjol. Serangan biasanya hilang pada umur 5-6 tahun, dan tidak ada obstruksi saluran nafas yang persisten.

2. ASMA PERSISTEN PADA BAYI

Mengi yang persisten dengan takipneu untuk beberapa hari atau beberapa minggu dapat terjadi pada anak umur antara 5-12 bulan. Mengi biasanya terdengar jelas kalau anak sedang aktif, dan tidak terdengar kalau anak sedang tidur.

Keadaan umum anak biasanya tetap baik, tumbuh dan berkembang dengan normal, beberapa anak bahkan menjadi gemuk, sementara gambaran rontgen paru biasanya normal.

Keadaan mengi yang persisten ini kemungkinan besar berhubungan dengan kecilnya saluran nafas karena udem mukosa dan hipersekresi saluran nafas.

3. ASMA HIPERSEKRESI

Biasanya terdapat pada anak umur permulaan sekolah. Terdapat serangan berulang dengan batuk, nafas ‘krek-krek’ dan mengi. Pada pemeriksaan fisik didapat : ronchi basah kasar, ronchi kering, sehingga sering sukar dibedakan dengan bronchitis karena infeksi.

4. ASMA KARENA LATIHAN FISIK

Banyak terdapat pada anak dengan asma persisten, biasanya pada yang sudah besar atau dewasa muda.

5. ASMA DENGAN ALERGEN SPESIFIK

Terdapat asma karena alergi binatang, tepung sari, makanan atau debu rumah. Menghindari satu alergen saja sering tidak menghilangkan serangan, terutama kalau alergennya berupa makanan, karena sangat jarang alergennya hanya satu jenis makanan saja. Namun demikian kadang-kadang terjadi serangan dengan alergen yang jelas, sehingga dalam hal ini menghindari alergen tersebut guna menghindari serangan hasilnya cukup baik. Asma karena aspirin dan tetrazinc lebih jarang terjadi pada anak.

6. BATUK MALAM

Batuk malam banyak terjadi pada semua bentuk asma. Batuk terjadi karena inflamasi mukosa (udem, sekresi bertambah), kalau ada mengi biasanya sebab dari batuk cukup jelas.

Ada golongan anak umur 2-6 tahun dengan serangan batuk malam yang kering dan berulang. Batuk biasanya terjadi pada jam 1-4 pagi sehingga mengganggu tidur anak dan keluarganya.

Sering didapat tanda adanya faktor alergi pada keluarga.

7. ASMA YANG MEMBURUK PADA DINI HARI

Pada golongan ini gejala serangan paling buruk terjadi pada jam 1-4 pagi. Hal ini dapat terjadi secara teratur atau intermiten.

Keadaan ini mungkin berhubungan dengan irama diurnal saluran nafas.

FASE-FASE TERJADINYA OBSTRUKSI BRONKUS

Obstuksi bronchus secara biologis dengan adanya mediator sel mast dibagi dalam 3 fase :

1. FASE CEPAT DAN SPASMOGENIK

Jika ada pencetus, terjadi peningkatan tahanan saluran nafas yang cepat dalam 10-15 menit. Reaksi tersebut dapat hilang, baik spontan maupun dengan bronchodilator. Terdapat kenaikan faktor kemotaktik netrofil sejalan dengan terjadinya tahanan saluran nafas.

Fase cepat ini kemungkinan besar melalui kerja histamin terhadap otot polos secara langsung atau melalui reflek vagal.

Perubahan ini dapat dihilangkan dengan pemberian kromoglikat atau antagonis histamin H1 dan H2 sebelumnya. Keadaan ini tidak dipengaruhi oleh pemberian kortiksteroid tepat sebelumnya. Tetapi pemberian kortikosteroid untuk beberapa hari sebelumnya dapat mencegah reaksi ini.

2. FASE LAMBAT DAN LAMA

Rangsangan alergen spesifik terhadap bronchus menyebabkan kenaikan tahanan saluran nafas yang lebih hebat dan terjadi maximal 6-8 jam.

Patogenesis reaksi ini belum jelas, namun diduga terjadi karena adanya infiltrasi netrofil karena reaksi yang tergantung kepada Ig E. Reaksi lambat mungkin berhubungan dengan reaksi sel mast. Lekotrin, prostaglandin dan tromboxan mungkin juga mempunyai peranan pada reaksi lambat, karena mediator ini menyebabkan kontraksi otot polos

bronchus yang lama dengan udem sub mukosa. Reaksi lambat dihambat denga pemberian kromoglikat atau kortikosteroid sebelumnya.

3. FASE INFLAMASI SUB AKUT ATAU KRONIS

Asma yang berlanjut dan tidak diobati atau kurang terkontrol berhubungan dengan inflamasi di dalam bronchus. Pada otopsi ditemukan inflamasi bronchus dengan eosinofil dan sel mononukleus, yang merupakan akibat kemotaktik sel mast.

Dalam hal ini pemberian Kortikosteroid biasanya memberikan hasil yang baik.

FAKTOR PENCETUS

1. ALERGEN

Hiper reaktivitas saluran nafas merupakan faktor penting. Bila hiper reaktivitas tinggi diperlukan jumlah alergen yang sedikit, dan sebaliknya jika hiper reaktivitas rendah maka diperlukan jumlah alergen yang lebih banyak untuk menimbulkan serangan asma.

Sensitivitas tergantung juga kepada lama dan intensitas hubungan dengan alergen, sehingga dalam hal ini umur penderita ikut menentukan.

Dengan demikian bertambahnya umur akan menambah pula jenis alergen sebagai pencetus.

Asma dengan alergen makanan biasanya terjadi pada bayi dan anak kecil.

2. INFEKSI

Infeksi Virus menjadi faktor pencetus tersering, terutama pada bayi dan anak kecil, dalam hal ini yang terbanyak adalah Respiratory Syncytial Virus (RSV) dan Parainfluenza Virus.

Kadang-kadang infeksi bacteri juga menjadi pencetus, seperti : infeksi Pertusis, Streptococus Beta Hemoliticus, bahkan pernah dilaporkan jamur Aspergillus dan infestasi parasit Askaris.

3. IRITAN

Hairspray, minyak wangi, asap rokok atau cerutu, CO, SO2, udara atau air dingin, iritasi hidung dan batuk, semuanya menjadi faktor yang menimbulkan reflek brochokonstriksi.

4. CUACA

Perubahan tekanan udara, suhu udara, angin dan kelembaban dilaporkan berhubungan dengan percepatan dan terjadinya serangan asma.

5. KEGIATAN FISIK

Aktifitas fisik yang berat dapat menimbulkan serangan asma pada anak. Bahkah tertawa dan menangis juga bisa menjadi faktor pencetus, terutama pada anak dengan faal paru di bawah optimal.

6. INFEKSI SALURAN NAFAS BAGIAN ATAS

Disamping infeksi saluran nafas bagian atas sebagai faktor pencetus serangan asma, rinitis alergika juga dapat menambah berat serangan asma melalui mekanisme iritasi maupun reflek.

7. REFLUKS GASTROESOFAGUS

Iritasi trachea karena asam lambung dapat menambah berat serangan asma pada anak bahkan pada orang dewasa.

8. INFLAMASI SALURAN NAFAS BAGIAN ATAS

Disamping infeksi virus pada saluran nafas bagian atas, sinusitis akut dan kronik juga dapat memudahkan terjadinya serangan asma pada anak.

9. FAKTOR PSIKIS

Faktor psikis merupakan faktor pencetus yang tidak boleh diabaikan dan sangat komplek. Tidak adanya perhatian dan atau tidak mau mengakui persoalan, yang ada hubungan dengan asma, baik oleh anak maupun keluarganya akan memperlambat atau bahkan menggagalkan segala upaya pencegahan serangan.

Sebaliknya terlalu takut terhadap kemungkinan serangan asma atau hari depan anak, juga tidak baik bahkan dapat memperberat serangan asma.

Pembatasan aktivitas anak, seringnya anak tidak masuk sekolah, seringnya bangun malam, terganggunya irama kehidupan keluarga karena anak sakit, dan rasa khawatir, semuanya dapat mempengaruhi terjadinya serangan asma pada anak, bahkan masa depan anak itu sendiri.

Oleh karenanya semua faktor pskis dan interaksi antar faktor tersebut harus diperhatikan dan dicarikan jalan keluarnya seoptimal mungkin.

HUBUNGAN ANTAR FAKTOR PENCETUS

Serangan asma sering timbul karena interaksi antara berbagai faktor pencetus. Pada anak dengan pencetus alergen sering disertai pencetus non alergen yang dapat memperburuk serangan asma. Dalam hal yang lebih luas diduga infeksi virus sering memperkuat reaksi terhadap pencetus alergenik maupun non alergenik.

Berbagai pencetus asma dan cara pencegahannya perlu diketahui dan diajarkan kepada anak dan keluarganya.

Debu rumah dan unsur di dalamnya merupakan pencetus yang sering dijumpai. Diakui bahwa tidak mudah menghindari debu rumah, tetapi hal ini harus tetap menjadi bagian integral yang tidak dapat ditinggalkan dalam pencegahan serangan asma pada anak.

OBAT-OBATAN DAN TERAPI IMUNOLOGIK

Apabila serangan asma baru pada stadium prodormal, maka penggunaan Brochodilator secepatnya dengan cara dan dosis yang tepat pada umumnya dapat menggagalkan serangan akut.

Oleh karenanya pendidikan kepada anak penderita asma dan keluarganya tentang gejala awal serangan dan bagaimana harus bertindak sangatlah penting untuk dilaksanakan.

Bronchodilator simpatomimetik untuk anak yang terbaik adalah inhaler atau nebulizer.

Simpatomimetik dapat dikombinasikan dengan Teofilin oral. Bila kadar Teofilin dalam darah tidak dapat diukur, maka dosis Simpatomimetik dapat dimulai dengan 3-4 mg/kgBB/6 jam.

Bila belum cukup dan tidak muncul efek samping, dosis dapat dinaikkan dengan memperhatikan hasil terapi dan memperhatikan tanda efek samping atau tambahkan Kortikosteroid.

Kortikosteroid masih merupakan salah satu obat yang penting dalam pencegahan asma, dan hendaklah dipertimbangkan bila hasil terapi Bronchodilator yang optimal tidak atau belum memadai. Pemberian Prednison harus hati-hati, tetapi tidak boleh ditunda sampai serangan asma menjadi berat sehingga anak harus dirawat inap. Prednison 1-2 mg/kgBB/hari biasanya sudah cukup memadai, dan pemakaian 1-2 minggu biasanya tidak memberikan efek samping.

Pemberian Kortikosteroid jangka pendek pada waktu serangan asma dapat mencegah keadaan yang lebih gawat, dengan demikian perawatan di RS dapat dihindarkan. Anak yang telah mendapat Kortikosteroid dalam waktu lama dengan dosis pemeliharaan, bila mendapat serangan asma maka harus mendapat dosis Kortikosteroid yang lebih tinggi.

Pada asma persisten atau kronik, pemberian Kortikosteroid jangka panjang mungkin diperlukan. Pemakaian Kortikosteroid dosis tinggi dalam jangka panjang bisa menimbulkan efek samping yang berat seperti : osteporosis, hipertensi, DM, alkalosis hipokalemi, penurunan kekebalan, gastritis, gangguan pertumbuhan, katarak, moon face, striae dan kegemukan.

Akibat buruk dari pemakaian Kortikosteroid jangka panjang dapat dikurangi dengan memakai Kortikosteroid perinhalasi. Bila tidak ada maka dapat digunakan Prednison oral dengan dosis pemeliharaan terendah, sekali pada pagi hari.

Pada waktu ada stres, misalnya trauma, pembedahan atau infeksi berat perlu dipertimbangkan juga pemberian dosis yang lebih tinggi dari pada dosis pemeliharaan.

Obat untuk pencegahan asma yang ideal pada anak adalah obat yang diberikan secara oral, dan paling baik kalau diberikan 1 atau 2 kali sehari. Obat tersebut sedapat mungkin bebas dari efek samping. Pada saat ini Ketotifen adalah pilihan yang paling memenuhi syarat tersebut di atas.

Terapi Imunologi (desensitivitas) tidak dianjurkan sebagai tindakan rutin, tetapi perlu dipertimbangkan bila tindakan dan terapi yang sudah diberikan dengan optimal tidak memberikan hasil yang memuaskan. Terapi Imunologi memerlukan syarat tertentu dengan hasil yang masih kontrofersial.

PENUTUP

Serangan asma muncul karena sebab multifaktoral dan tidak mudah untuk dicegah. Pencetus serangan asma tidak jarang sulit dipastikan, dan kalaupun diketahui, sering sulit untuk dihindari. Walaupun demikian tetap harus diusahakan keseimbangan antara anak yang menderita asma dengan lingkungannya, sehingga tumbuh kembang anak tidak terganggu.

Selain usaha untuk menseras

ikan lingkungan diperlukan pula Bronchodilator, Kortikosteroid, Ketotifen dll, yang bila digunakan dengan cepat, tepat, adequat dan bijaksana dapat membantu mencegah dan memberantas serangan asma pada anak.

Walaupun hasilnya masih kontrofersial, Terapi Imunologi bisa dipertimbangkan bila usaha konvensional yang telah dilakukan kurang atau bahkan tidak memberikan hasil yang optimal.

Pendidikan tentang penyakit asma, cara pencegahan dan pengobatannya sedapat mungkin diberikan kepada anak penderita asma dan keluarganya, karena hal ini sangat mendukung terutama pada usaha pencegahan serangan, bahkan hasil yang optimal pada terapi jangka panjang.

DAFTAR PUSTAKA

1. Akib, A. Siregar, S.P. Matondang, C.S. dan Suyoko, E.M.D. : Pengobatan profilaksis ketotifen pada asma bronkial anak. Buku simposium : Penanggulanagan Asma Bronkial-Konsep Mutakhir, hal 59-67. FK-UI, 1984.

2. Bemstein, I.L. : Cromolyn in the treatment of asthma; changing Concept, J Allergy Clin.Immunol.68: 247, 1981.

3. Colver, A.F. : Community campaign against asthma. Arch.Dis.Chil 59 : 449, 1984.

4. Kay, A.B. : Mediators and inflamatory cells in bronchial asthma. International Conference on Asthma : Similarities and Contrasts in Children and Adult, page : 8-10, Montreux, Swittzerland, 1984.

5. Salmon, M.A. : Current concept of bronchial asthma treatment in the United Kingdom, Buku Simposium : Penanggulangan Asthma Bronchial Konsep Mutakhir, hal 69-75, FK-UI, 1984.

6. Wirjodihardjo, M., Boediman, I., Rahajoe, N.N. : Some experiences in imunotherapy in the management of childhood asthma. Proc. 4 th Asian Conggress of Paediatrics, page 34, Seoul, Korea, 1982.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 18, 2009 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: