RSS

Kontrasepsi Hormonal

18 Mar

Jumlah penduduk dunia yang terus meningkat akan menimbulkan banyak permasalahan dalam berbagai bidang, terutama di bidang sosial dan ekonomi. Pertambahan penduduk yang tidak terkendali dapat menyebabkan peledakan penduduk, dan pada akhirnya akan timbul kesulitan dalam pemerataan kemakmuran dalam masyarakat.

Dampak pertambahan penduduk yang cepat antara lain adalah dalam bidang pendidikan (semakin banyak anak yang tidak mendapatkan pendidikan yang memadai), bidang pelayanan kesehatan (banyak masyarakat yang tidak mendapat pelayanan kesehatan yang mencukupi), bidang tenaga kerja (banyaknya angka pengangguran karena terbatasnya lapangan pekerjaan), bidang sosial ekonomi (pendapatan per kapita masyarakat yang rendah), serta bidang lingkungan hidup (keseimbangan alam akan terganggu).1

Lembaran Data Populasi Dunia pada tahun 2000 menunjukkan Indonesia berada pada peringkat kelima dalam hal jumlah penduduk terbanyak, yaitu sebesar 237.500.000 jiwa. Untuk menekan pertambahan penduduk tersebut, maka sejak tanggal 23 Desember 1957 telah berdiri PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia), yang menjadi cikal bakal timbulnya program nasional Keluarga Berencana (KB) di Indonesia. Tujuan program KB adalah memperbaiki kesehatan dan kesejahteraan keluarga, serta mengurangi angka kelahiran untuk meningkatkan taraf hidup rakyat dan bangsa.1

Program Nasional Keluarga Berencana di Indonesia bertujuan untuk mewujudkan “Keluarga Berkualitas tahun 2015”. Metode yang digunakan untuk mewujudkan tujuan tersebut adalah dengan penggunaan alat kontrasepsi oleh pasangan suami istri. Alat kontrasepsi tersebut dapat dengan metode sederhana sampai dengan metode modern, dengan tujuan untuk menekan angka kehamilan dan laju pertambahan penduduk.1

Sejarah

Pada tahun 1921 Haberlandt melakukan transplantasi ovarium binatang percobaan yang sedang hamil kepada binatang lain dari spesies yang sama. Ia menemukan kemandulan sementara pada binatang yang menerima transplantasi. Pada tahun 1930 Allen melakukan isolasi progesteron, dan pada tahun-tahun berikutnya Bickenbach dan von Massenbach menemukan bahwa progesteron, testosteron, dan estrogen dapat menghambat ovulasi. Walaupun demikian, sampai tahun 1950 hormon steroid ini belum mendapat tempat sebagai obat antifertilitas, tetapi banyak diselidiki untuk menghasilkan kortison.2

Barulah pada tahun 1950-an setelah Pincus, Chang, dan Rock menemukan bahwa pemberian progesteron per-os pada hari ke 5 sampai ke 25 daur haid dapat menghambat ovulasi, hormon steroid ini dipakai untuk keperluan kontrasepsi. Percobaan pertama pemakaian kontrasepsi oral dengan noretinodrel dan mestranol di Puerto Rico pada tahun 1956 membuktikan daya guna yang sangat tinggi sebagai kontrasepsi.2

Sejak itu perkembangan kontrasepsi hormonal berlangsung terus. Tahun 1960 pil kombinasi estrogen-progesteron mulai digunakan. Tahun 1963 pil sekuensial diperkenalkan. Sejak tahun 1965 sampai sekarang banyak diadakan penyesuaian dosis atau penggunaan progesteron saja, sehingga muncul pil mini, dan lain-lain. Perkembangan ini pada umumnya bertujuan mencari suatu kontrasepsi hormonal yang mempunyai daya guna tinggi, efek samping minimal, dan keluhan pasien yang sekecil-kecilnya.2

Secara umum, persyaratan metode kontrasepsi ideal adalah aman (tidak menimbulkan komplikasi berat jika digunakan), berdaya guna (jika digunakan sesuai aturan dapat mencegah terjadinya kehamilan), dapat diterima (dapat diterima oleh klien dan lingkungan budaya di masyarakat), terjangkau harganya oleh masyarakat, serta jika metode tersebut dihentikan penggunaannya maka klien akan segera kembali kesuburannya, kecuali untuk kontrasepsi mantap.2

I. DEFINISI

Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah kehamilan, upaya tersebut dpat bersifat sementara dan dapat pula bersifat permanen.2 Yang bersifat permanen pada wanita dinamakan tubektomi dan pada pria vasektomi. 3 Sedang yang bersifat sementara dapat menggunakan obat peroral, suntikan, intravaginal, atau dengan obat topikal intravaginal yang bersifat spermisid. Selanjutnya disini hanya akan dibahas mengenai kontrasepsi hormonal yang umumnya digunakan secara peroral, suntikan atau implantasi subkutan 4

Sampai sekarang cara kontrasepsi yang ideal belum ada. Kontrasepsi ideal itu harus memenuhi syarat sebagai berikut, dapat dipercaya, tidak menimbulkan efek yang mengganggu kesehatan, daya kerjanya dapat diatur menurut kebutuhan, tidak menimbulkan gangguan sewaktu melakukan koitus, tidak memerlukan motivasi terus-menerus, mudah pelaksanaan, murah harganya, dan dapat diterima penggunaannya oleh pasangan yang bersangkutan.2

II. MEKANISME KERJA

Mekanisme kerja kontrasepsi hormon steroid antara lain akan mempengaruhi:

1. Ovulasi dan Implantasi

2. Transpor gamet

3. Fungsi corpus luteum

4. Lendir serviks2

Mekanisme kerja Estrogen :

Estrogen disintesa dari kolesterol terutama di ovarium, dan kelenjar lain misalnya kortek adrenal, testis dan plasenta. Estrogen endogen pada manusia terdiri dari estriol, estradiol, dan estron.2

Mekanisme kerja estrogen dalam kontrasepsi adalah sebagai berikut :

1. Ovulasi

a. Estrogen menghambat ovulasi melalui efek pada hipotalamus, yang kemudian mengakibatkan supresi pada FSH dan LH kelenjar hipofise.]

b. Penghambatan tersebut tampak dari tidak adanya estrogen pada pertengahan siklus, tidak adanya puncak-puncak FSH dan LH pada pertengahan siklus dan supresi post-ovulasi peninggian progesteron dalam serum dan pregnandiol dalam urine yang terjadi dalam keadaan normal.

c. Ovulasi pun tidak selalu dihambat oleh estrogen dalam pil oral kombinasi (yang berisi estrogen 50 mcg atau kurang), karena estrogen mungkin hanya efektif 95-98% dalam menghambat ovulasi. Ovulasi juga bisa terhambat karena efek progesteron pada lendir cervix dan lingkungan endometrium serta tuba.

d. Produksi hormon-endogenous memang dihambat, tetapi tidak seluruhnya. Masih ada sedikit estrogen yang dihasilkan ovarium seperti pada fase folikuler dini siklus haid.2

2. Implantasi

a. Implantasi dari blastocyst yang sedang berkembang terjadi 6 hari setelah fertilisasi, dan ini dapat dihambat bila lingkungan endometrium tidak berada dalam keadaan optimal. Kadar estrogen atau progesteron yang berlebihan atau kurang/ inadekuat atau keseimbangan estrogen-progesteron yang tidak tepat, menyebabkan pola endometrium yang abnormal sehingga tidak baik untuk implantasi.2

b. Implantasi dari ovum yang telah dibuahi juga dapat dihambat dengan estrogen dosis tinggi (diethylstilbestrol, ethinylestradiol) yang diberikan sekitar pertengahan siklus pada sanggama yang tidak dilindungi, dan ini disebabkan karena terganggunya perkembangan endometrium yang normal. Efek inilah rupanya yang menjadi dasar bagi metode kontrasepsi pasca sanggama atau post-coital.2

3. Transpor gamet/ovum

Pada percobaan binatang, transpor gamet/ovum dipercepat oleh estrogen dan ini disebabkan karena efek hormonal pada sekresi dan peristaltik tuba serta kontraktilitas uterus.2

4. Luteolisis

a. Yaitu degenerasi dari corpus luteum, yang menyebabkan penurunan yang cepat dari produksi estrogen dan progesteron oleh ovarium, yang selanjutnya menyebabkan dibuangnya jaringan endometrium. Untuk kelangsungan kehamilan yang baik diperlukan fungsi corpus luteum yang baik.4

b. Degenerasi dari corpus luteum menyebabkan penurunan kadar progesteron serum dan selanjutnya mencegah implantasi yang normal, merupakan efek yang mungkin disebabkan oleh pemberian estrogen dosis tinggi pasca sanggama. 4

Mekanisme Kerja Progesterone :

Gestagen atau progesteron adalah hormone steroid yang meny

ebabkan terjadinya transformasi sekretorik pada endometrium dan yang juga sekaligus dapat mempertahankan kehamilan.5 Mekanisme kerja progesterone dalam kontrasepsi adalah sebagai berikut :

1. Ovulasi

Ovulasi sendiri mungkin dapat dihambat karena terganggunya fungsi poros hipotalamus-hipofisis-ovarium dan karena modifikasi dari FSH dan LH pada pertengahan siklus yang disebabkan oleh progesteron.5

2. Implantasi

a. Implantasi mungkin dapat dicegah bila diberikan progesteron pra-ovulasi. Ini yang menjadi dasar untuk membuat IUD yang mengandung progesteron.5

b. Pemberian progesteron-eksogenous dapat mengganggu kadar puncak FSH dan LH, sehingga meskipun terjadi ovulasi produksi progesterone yang berkurang dari corpus luteum menyebabkan penghambatan dari implantasi.5

c. Pemberian progesterone secara sistemik dan untuk jangka waktu yang lama menyebabkan endometrium mengalami keadaan “istirahat” dan atropi.5

3. Transpor Gamet atau Ovum

Pengangkutan ovum dapat diperlambat bila diberikan progesterone sebelum terjadi fertilisasi.5

4. Luteolisis

Pemberian jangka lama progesteron saja mungkin menyebabkan fungsi corpus luteum yang tidak adekuat pada siklus haid sehingga menghambat folikulogenesis.5

5. Lendir serviks yang kental

a. Dalam 48 jam setelah pemberian progesteron, sudah tampak lendir serviks yang kental, sehingga motilitas dan daya penetrasi dari spermatozoa sangat terhambat.

b. Lendir serviks yang tidak cocok dengan sperma adalah lendir yang jumlahnya sedikit, kental dan seluler serta kurang menunjukkan ferning dan spinnbarkeit.4

III. Macam-macam Kontrasepsi Hormonal

III.1. Pil / Tablet

a. Pil Oral Kombinasi (POK)

Adalah pil kontrasepsi berisi estrogen maupun progesterone (progestagen, gestagen). Dosis estrogen ada yang 0,05; 0,08; dan 0,1 mg pertablet. Sedangkan dosis dan jenis progesteronnya bervariasi dari masing-masing pabrik pembuatnya.4

Pil Oral Kombinasi (POK):

a. Mengandung estrogen dan progesterone

b. Terdapat beberapa macam POK :

Monophasic

Pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet, mengandung hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dalam dosis yang sama, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.6

Multiphasic

Contoh :

Pil Biphasic : Pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet, mengandung hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dalam dua dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.6

Pil Triphasic : Pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet, mengandung hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dalam tiga dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.6

Cara kerja

Pil kombinasi akan

(a) Menghalangi produksi gonadotropin dan hipofise secara terus-menerus, sehingga tidak terjadi ovulasi;

(b) Merubah konsistensi lendir serviks menjadi tebal dan kental, sehingga penetrasi dan transportasi sperma akan terhalang, sulit, atau tidak mungkin sama sekali;

(c) Merubah peristaltic tuba dan rahim, sehingga mengganggu transportasi sperma maupun sel telur;

(d) Menimbulkan perubahan pada endometrium, sehingga tidak memungkinkan terjadinya nidasi;

(e) Merubah kepekaan indung telur terhadap rangsangan-rangsangan gonadotropin.4

Efektivitas

Secara teoritis hampir 100, dengan angka kegagalan 0,1-0,7.4

Kelebihan

1. Efektivitasnya tinggi, dapat dipercaya jika dimakan sesuai aturan pakainya.

2. Pemakai pil dapat hamil lagi, bilamana dikehendaki kesuburan dapat kembali dengan cepat.

3. Tidak mengganggu kegiatan seksual suami istri

4. Siklus haid menjadi teratur

5. Dapat menghilangkan keluhan nyeri haid (dismenorea).

6. Untuk pengobatan kemandulan, kadang-kadang dapat dipakai untuk memancing kesuburan

7. Untuk mengobati perdarahan haid pada wanita usia muda (Juvenile bleeding)

8. Dapat memperbaiki perdarahan tidak teratur yang disebabkan pemberian kontrasepsi hormonal lainnya.

9. Dikatakan dapat mengurangi kejadian kanker ovarium.

10. Dapat digunakan sejak usia remaja hingga menopause.

11. Dapat digunakan jangka panjang selama perempuan masih ingin menggunakan untuk mencegah kehamilan.

12. Dapat dihentikan setiap saat. 4,6

Kekurangan

1. Pil harus dimakan setiap hari, kurang cocok bagi wanita yang pelupa.

2. Motivasi harus diberikan secara lebih intensif4

Efek samping

v Ringan

Berupa mual muntah, pertambahan berat badan, perdarahan tidak teratur, meningkatkan tekanan darah, retensi cairan, edema, sakit kepala, timbulnya jerawat, alopesia, dan keluhan ringan lainnya. Keluhan ini berlangsung pada bulan-bulan pertama pemakaian pil. Pada sebagian kecil perempuan dapat menimbulkan depresi dan perubahan suasana hati, sehingga keinginan untuk melakukan hubungan seks berkurang.4,6

v Berat

Dapat terjadi trombo-embolisme, mungkin karena terjadi peningkatan aktivitas karena factor-faktor pembekuan atau karena pengaruh vaskuler secara langsung. Angka kejadian trombo-embolisme ini dilaporkan 4-9 kali lebih tinggi dari wanita bukan pemakai pil dari golongan umur yang sama. Namun angka kematian yang terjadi amat rendah, yaitu 3 per 100.000 wanita pemakai pil, hal ini diamati pada wanita-wanita di negara barat.4

Mengenai kemungkinan timbulnya karsinoma serviks uteri, menurut penelitian-penelitian yang dipercaya diluar negeri, dikatakan bahwa tidak diperoleh hubungan yang bermakna antara pemakai pil dengan kanker serviks maupun dengan displasia serviks.4

Kontra indikasi absolut

· Adanya gangguan fungsi hati,

· tromboflebitis atau riwayat tromboflebitis,

· kelainan serebro-vaskuler,

· keganasan pada kelenjar mamma dan alat reproduksi,

· adanya varises yang berat.4

Kontra indikasi Relatif

· Hipertensi,

· diabetes mellitus,

· penyakit tiroid,

· perdarahan abnormal pervaginam yang tidak jelas penyebabnya,

· penyakit jantung dan penyakit ginjal,

· serangan asma bronchial,

· eksema luas,

· migraine yang hebat,

· sering dapat serangan epilepsy,

· mioma uteri.3,5

Waktu mulai menggunakan pil kombinasi

· Setiap saat selagi haid, untuk meyakinkan kalau perempuan tersebut tidak hamil,

· Hari pertama sampai hari ke- 7 siklus haid,

· Boleh menggunakan pada hari ke-8, tetapi perlu menggunakan metode kontrasepsi yang lain (kondom) mulai hari ke-8 sampai hari ke-14 atau tidak melakukan hubungan seksual sampai telah menghabiskan paket pil tersebut.

· Setelah melahirkan :

o Setelah 6 bulan pemberian asi eksklusif

o Setelah 3 bulan dan tidak menyusui

o Pasca keguguran ( segera dalam waktu 7 hari).

· Bila berhenti menggunakan kontrasepsi injeksi, dan ingin menggantikan dengan pil kombinasi, pil dapat segera diberikan tanpa perlu menunggu haid.6

b. Pil sequential

Cara ini banyak dipakai pada tahun enam puluhan, sedangkan dewasa ini nampaknya kurang populer. 5

Pil sequensial :

a. Terdiri dari estrogen saja untuk 14-15 hari.

b. Disusul tablet kombinasi untuk 5-7 hari.3

Cara pemakaian

Mula-mula makanlah pil yang berisi estrogen selama 2 minggu, diteruskan dengan memakai pil kombinasi selama 1 minggu, lalu selama 1 minggu tidak makan pil apapun. Pada akhir minggu keempat akan terjadi perdarahan haid (withdrawal bleed

ing).5

Cara kerja

Khasiat utama pil sekuensial adalah menghambat ovulasi. Dosis estrogen yang ada lebih tinggi daripada dosis estrogen dalam pil kombinasi. Berhubung tidak adanya progesterone pada 2 minggu pertama, maka kelupaan makan pil hanya 1 hari saja akan menyebabkan terjadinya ovulasi, sehingga masih mungkin terjadi kehamilan.5

Indikasi

Pada wanita hipoestrogenik, haid tidak teratur, hipofertil, haid yang sering terlambat, dan wanita dengan jerawat.5

Efek samping

Sama dengan pil kombinasi.5

Efektivitas

Pil sekuensial sekarang ini kurang populer dibandingkan pil kombinasi. Angka kegagalan lebih tinggi dibandingkan pil kombinasi, yaitu 0,5-1,4. Ini disebabkan karena bila makan pil sekuensial ini tidak boleh lupa, dapat terjadi kehamilan.5

c. Mini pill

Dewasa ini mini pill mengandung gestagen turunan nortestosteron. Meskipun efek sampingnya rendah, penggunaan mini pill sebagai kontrasepsi sangat rendah. Rendahnya penggunaan mini pill karena mini pill tidak dapat menjamin berlangsungnya suatu siklus haid yang normal.

Jenis Minipil

· Kemasan dengan isi 35 pil : 300 μg levonorgestrel atau 350 μg noretindron.

· Kemasan dengan isi 28 pil : 75 μg norgestrel.6

Cara Kerja

Cara kerja mini pill sangat kompleks dan hingga kini belum diketahui secara pasti. Beberapa cara kerja yang telah diketahui diantaranya adalah :

· menekan sekresi gonadotropin dan produksi steroid di ovarium.

· Endometrium mengalami transformasi lebih awal sehingga implantasi lebih sulit.

· Mengentalkan lendir serviks sehingga menghambat penetrasi sperma.

· Mengubah motilitas tuba sehingga transportasi sperma terganggu.6

Efektivitas

Keefektifan mini pill sangat bergantung pada jenis gestagen yang terkandung dalam mini pill tesebut. Pada penggunaan mini pill jangan sampai kelupaan satu-dua tablet, atau jangan sampai terjadi gangguan gastrointestinal (muntah, diare), karena akibatnya kemungkinan kehamilan sangat besar. Penggunaan obat mukolitik asetil sistein dapat meningkatkan permeabilitas sperma, sehingga kemampuan kontraseptif mini pill dapat terganggu. Agar didapatkan kehandalan yang cukup tinggi, maka jangan sampai ada tablet yang terlupa, tablet digunakan pada jam yang sama (malam hari), dan senggama sebaiknya dilakukan 3-20 jam setelah penggunaan mini pill. Perlu hati-hati pemberian mini pill pada wanita gemuk karena kegagalannya akan lebih tinggi. Estrogen dalam lemak wanita gemuk sangat tinggi. Estrogen tersebut memiliki efek positif terhadap lendir serviks.5

Cara Pemakaian

Mini pill digunakan setiap hari dan apabila lupa tidak usah dirangkap.

Kelebihan

Kelebihan kontrasepsi :

· Sangat efektif bila digunakan secara benar.

· Tidak mengganggu hubungan seksual.

· Tidak mempengaruhi asi.

· Kesuburan cepat kembali.

· Nyaman dan mudah digunakan.

· Dapat dihentikan setiap saat.

Kelebihan nonkontrasepsi :

· Mengurangi nyeri haid

· Mengurangi jumlah darah haid

· Menurunkan tingkat anemia

· Mencegah kanker endometrium

· Melindungi dari penyakit radang panggul

· Tidak meningkatkan pembekuan darah

· Dapat diberikan pada penderita endometriosis

· Kurang menyebabkan peningkatan tekanan darah, nyeri kepala dan depresi

· Dapat mengurangi keluhan premenstrual sindrom ( sakit kepala, perut kembung, nyeri payudara, lekas marah)

· Sedikit sekali mengganggu metabolisme karbohidrat sehingga relatif aman diberikan pada perempuan pengidap kencing manis yang belum mengalami komplikasi.

Kekurangan

· Hampir 30 – 60 % mengalami gangguan haid ( perdarahan sela, spotting, amenorhea)

· Peningkatan/penurunan berat badan.

· Harus digunakan setiap hari dan waktu yang sama.

· Bila lupa satu pil saja, kegagalan menjadi lebih besar.

· Payudara menjadi tegang, mual, pusing, dermatitis, atau jerawat.

· Risiko kehamilan ektopik cukup tinggi ( 4 dari 100 kehamilan), tetapi risiko ini lebih rendah jika dibandingkan dengan perempuan yang tidak menggunakan minipil.

· Efektifitasnya menjadi lebih rendah bila digunakan bersamaan dengan obat tuberkulosis atau obat epilepsi.

· Tidak melindungi diri dari infeksi menular seksual.

· Hirsutisme ( tumbuh rambut/bulu berlebihan didaerah muka), tetapi sangat jarang terjadi.6

Efek samping

Gangguan metabolisme lemak maupun gangguan faktor pembekuan darah dijumpai jauh lebih sedikit pada penggunaan mini pill, dibandingkan bila menggunakan pil kombinasi. Kejadian kanker payudara juga jauh lebih rendah pada pemakai mini pill, sedangkan penggunaan pil kombinasi jangka panjang dijumpai angka kejadian kanker payudara yang sedikit meningkat. Karena mini pill mengandung gestagen saja, kemungkinan terjadi kanker endometrium jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan pil yang mengandung estrogen. Terjadi sedikit peningkatan gula darah pada penggunaan mini pill. Namun, pada uji oral glukosa dijumpai kadar yang normal sehingga mini pill bukan merupakan kontraindikasi absolut bagi penderita kencing manis yang ringan maupun kencing manis yang laten. 5

Waktu mulai menggunakan minipil

· Mulai hari pertama sampai hari ke-5 siklus haid. Tidak diperlukan pencegahan dengan kontrasepsi lain.

· Dapat digunakan setiap saat, asal saja tidak terjadi kehamilan. Bila menggunakannya setelah hari ke-5 siklus haid, jangan melakukan hubungan seksual selama 2 hari atau menggunakan metode kontrasepsi lain untuk 2 hari saja.

· Bila pasien tidak haid, minipil dapat digunakan setiap saat, asal saja diyakini tidak hamil. jangan melakukan hubungan seksual selama 2 hari atau menggunakan metode kontrasepsi lain untuk 2 hari saja.

· Bila menyusui antara 6 minggu dan 6 bulan pasca persalinan dan tidak haid, minipil dapat dimulai setiap saat. Bila menyusui penuh, tidak memerlukan metode kontrasepsi tambahan.

· Bila lebih dari 6 minggu pasca persalinan dan pasien telah mendapat haid, minipil dapat dimulai pada hari ke 1-5 siklus haid.6

d. Morning after pill

Banyak istilah yang dipakai untuk menamakan kontrasepsi ini. Morning after pill menerangkan bahwa pil atau obat tersebut harus dimulai dalam waktu beberapa jam atau diberikan esok paginya. Karena Morning after pill ini digunakan setelah senggama, kontrasepsi ini bertujuan bukan mencegah konsepsi, melainkan untuk mencegah nidasi. Morning after pill ini berisi kombinasi estrogen dan progesteron.5

Cara Pemakaian

Pil atau obat ini diminum setelah senggama pada keesokan harinya paling lambat 48 jam pascasenggama. Misalnya dengan pemberian 2 tablet pil kombinasi, 2 kali/hari, dalam waktu 12 jam pascasenggama.5

Cara Kerja

Pemberian pil ini dapat mencegah terjadinya nidasi dan meningkatkan motilitas tuba sehingga transfor ovum tidak berjalan secara fisiologis. Untuk nidasi endometrium memproduksi enzim karbonhidrase. Pemberian estrogen dan progesteron dosis tinggi akan mengurangi pembentukan enzim tersebut, sehingga endometrium tidak fisiologis lagi.5

Indikasi

Hanya diindikasikan bagi wanita yang tidak menggunakan jenis kontrasepsi apapun, dan yang melakukan senggama pada pertengahan siklus. Kontrasepsi pascasenggama ini bukan merupakan suatu alternatif untuk kontrasepsi, melainkan pencegahan kehamilan secara darurat saja.5

Efek samping

Kemungkinan terjadinya kelainan bawaan major sangat kecil, seperti kanker genita

lia. Perlu hati-hati dalam menggunakan dietilstilbestrol (DES) kerena pernah dilaporkan menimbulkan kanker vulva. Obat kontrasepsi pascasenggama dapat menimbulkan sakit kepala, mual, daan muntah, sehingga perlu kadang-kadang diberikan tambahan obat antimuntah.3,5

III.2. Kontrasepsi suntikan

Kontrasepsi hormonal jenis KB suntikan di Indonesia semakin banyak dipakai karena kerjanya yang efektif, pemakaiannya praktis, harganya relatif murah dan aman. Cara ini mulai disukai masyarakat kita dan diperkirakan setengah juta pasangan memakai kontrasepsi suntikan untuk mencegah kehamilan (1983). Penelitian lapangan kontrasepsi suntikan dimulai tahun 1965, dan sekarang di seluruh dunia diperkirakan berjuta-juta wanita memakai cara ini untuk tujuan kontrasepsi.5

Macam kontrasepsi suntikan antara lain Depo-Provera dan Noristrat (Norigest).

Depo-Provera

Adalah Depo Medroksi Progesteron Asetat (DMPA) yang diproduksi oleh Upjohn, Amerika Serikat. Kemasan satu botol berisi 3 ml @ 50 mg/ml.

Cara kerja:

1. Obat ini menghalangi terjadinya ovulasi dengan jalan menekan pembentukan Releasing factor dari hipotalamus.

2. Lendir serviks bertambah kental, sehingga menghambat penetrasi sperma melalui serviks uteri.

3. Implantasi ovum dalam endometrium dihalangi

4. Kecepatan transpor ovum melalui tuba berubah.5

Keuntungan

Keuntungannya adalah efektivitas tinggi, sederhana pemakaiannya, cukup menyenangkan bagi akseptor (injeksi hanya 4x setahun), reversible, cocok untuk ibu-ibu yang menyusui anak.

Waktu pemberian dan dosis

Depo Provera sangat cocok untuk program post partum karena tidak mengganggu laktasi, dan terjadinya amenorea setelah suntikan-suntikan Depo Provera tidak akan mengganggu ibu-ibu yang menyusui anaknya dalam masa postpartum, karena masa ini terjadi amenorea laktasi. Untuk program postpartum, Depo Provera disuntikkan sebelum ibu meninggalkan rumah sakit; sebaiknya sesudah air susu ibu terbentuk, yaitu kira-kira hari ke 3 sampai ke 5. Depo Provera disuntikkan dalam dosis 150 mcg/cc sekali 3 bulan. Suntikan harus intramuskulus dalam.

Efek samping

Sering menimbulkan perdarahan yang tidak teratur (spotting, breakthrough bleeding) amenorea, menoragia, metrorrhagia. Seperti halnya dengan kontrasepsi hormonal lainnya, maka dijumpai pula keluhan mual, pusing, menggigil, mastalgia dan berat badan bertambah. 3

III.3. NORPLANT

Sinonim : Alat kontrasepsi bawah kulit (AKBK), implant, KB susuk. Norplant adalah suatu alat kontrasepsi yang mengandung levonorgestrel yang dibungkus dalam kapsul silastic-silicone dan disusukkan di bawah kulit. Jumlah kapsul yang disusukkan di bawah kulit adalah sebanyak 6 kapsul dan masing-masing kapsul panjangnya 34 mm dan berisi 36 mg levonorgestrel. 3

Mekanisme kerja

1. Menghentikan lendir serviks uteri sehingga menyulitkan penetrasi sperma.

2. Menimbulkan perubahan-perubahan pada endometrium sehingga tidak cocok untuk implantasi zygote.

3. Pada sebagian kasus dapat pula menghalangi terjadinya ovulasi.3

Kelebihan Norplant

Cara ini cocok untuk wanita yang tidak boleh menggunakan obat yang mengandung estrogen, perdarahan yang terjadi lebih ringan, tidak menaikkan tekanan darah, risiko terjadinya kehamilan ektopik lebih kecil jika dibandingkan dengan pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR). Selain itu cara Norplant ini dapat digunakan untuk jangka panjang (5 tahun) dan bersifat reversible.3

Efek samping Norplant

Gangguan pola haid seperti terjadinya spotting, perdarahan haid memanjang atau lebih sering berdarah (metrorrhagia), amenorea, mual-mual, anoreksi, pening, sakit kepala, kadang-kadang terjadi perubahan pada libido dan berat badan, timbul akne. Oleh karena jumlah progestin yang dikeluarkan ke dalam darah sangat kecil, maka efek samping yang terjadi tidak sesering pada penggunaan pil KB.3

Indikasi

Wanita yang ingin memakai kontrasepsi untuk jangka waktu yang lama tetapi tidak bersedia menjalani kontrasepsi mantap atau menggunakan AKDR. Wanita-wanita yang tidak boleh menggunakan pil KB yang mengandung estrogen.3

Kontraindikasi

1. Kehamilan atau disangka hamil.

2. Penderita penyakit hati.

3. Kanker payudara.

4. Kelainan jiwa

5. Varikosis.

6. Riwayat kehamilan ektopik.

7. Diabetes mellitus.

8. Kelainan kardiovaskular.3

Waktu Pemasangan

Waktu yang paling baik untuk pemasangan norplant adalah sewaktu haid berlangsung atau masa pra ovulasi dari siklus haid, sehingga adanya kehamilan dapat disingkirkan. Keenam kapsul yang masing-masing mengandung 36 mg levonorgestrel ditanamkan pada lengan kiri atas (atau pada lengan kanan atas akseptor yang kidal) lebih kurang 6-10 cm dari lipatan siku.3

Pengangkatan atau Ekstraksi

Pengangkatan norplant dilakukan atas indikasi :

1. Atas permintaan akseptor.

2. Timbulnya efek samping yang sangat mengganggu dan tidak dapat diatasi dengan pengobatan biasa.

3. Sudah habis masa pakainya.

4. Terjadi kehamilan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Mochtar M, Keluarga Berencana, dalam Lutan D (ed), Sinopsis Obstetri, Obstetri Operatif-Obstetri Sosial, EGC, Jakarta, 1998, hal.249 – 254.

  1. Saifudin AS, Rachimhadi T, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 1999, hal. 905 – 910.
  1. Albar E, Kontrasepsi, dalam Saifudin AS, Rachimhadi T (ed), Ilmu Kandungan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 1999, hal. 535 – 572.
  1. Hartanto H, Keluarga Berencana dan Kontrasepsi, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 2003, hal 46 – 50.
  1. Baziad A, Kontrasepsi Hormonal, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 2002.
  2. Affandi B, Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 2003.
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 18, 2009 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: