RSS

Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada Anak

18 Mar

Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu keadaan dimana didapatkan adanya bakteria di dalam urine dalam jumlah tertentu (signifikan) (Weinberg, 1974 ; Gabriel 1974 ; Valenti dan Reese 1986). ISK pada anak sering ditemukan, merupakan penyebab kedua morbiditas penyakit infeksi pada anak sesudah infeksi saluran nafas. Infeksi yang berulang sering terjadi pada penderita yang rentan, sehingga perlu pengenalan dini dan pengobatan yang adekuat untuk mempertahankan fungsi ginjal dan mencegah kerusakan lebih lanjut (Alatas et al, 1993).

ISK kadang–kadang tanpa gejala klinis, bisa juga dirasakan mengganggu atau dapat membawa kematian, yaitu apabila berkembang menjadi sepsis atau bila terjadi kerusakan parenkim ginjal yang mengakibatkan insufisiensi ginjal progresif (Fleet et al, 1976 ; Montgomeri et al, 1976 cit Damanik et al, 1983). Terutama pada bayi dan anak, ISK sering terjadi, namun diagnosisnya tidak mudah ditegakkan, karena gejala klinis yang tidak jelas serta perhatian dokter tidak tertuju pada saluran kemih (Damanik et al, 1983).

ISK pada anak memberi gejala yang tidak khas ataupun dapat asimtomatik sehingga diagnosis dini tergantung pada kewaspadaan dokter yang memeriksa penderita (Sardjito et al, 1983). Gejala klinik bervariasi mulai dari yang asimtomatik sampai dengan gejala berat. Gejala klinik pada neonatus dan anak kurang dari 2 tahun sering berupa sepsis dengan demam, iritabel, muntah, diare, dan dehidrasi walaupun 1-3% kasus ISK pada golongan ini dapat asimtomatik. Pada anak yang lebih besar gejala dapat berupa disuria, frekuensi berkemih meningkat, dan nyeri pinggang. Walaupun demikian sering sulit membedakan ISK bagian atas dan bawah pada kelompok ini, bahkan pada banyak anak menunjukkan keluhan yang samar-samar dan tidak mengarah pada saluran kemih (Valenti and Reese, 1986; Weinberg, 1987).

Sumber bakteri umumnya adalah flora tinja penderita, anomali struktural kongenital saluran kemih terutama yang menghambat aliran kemih, merupakan predisposisi terjadinya infeksi. Faktor predisposisi yang lain adalah benda asing, kateterisasi, urolithiasis, dan mungkin juga konstipasi (Behrman et al, 1992). ISK nosokomial merupakan ISK yang terjadi karena pemasangan kateter di rumah sakit, dilaporkan sebanyak 14,2 per 1000 anak yang dirawat (Alatas et al, 1993). Diperkirakan mencapai 40% dari infeksi nosokomial mula-mula mengenai saluran kemih (Mandell and Ralph, 1985). Menurut Roberts (1986), diperkirakan setiap tahunnya 6 juta pasien berkunjung ke rumah sakit akibat ISK untuk rawat jalan, sedangkan ISK yang berhubungan dengan katerisasi pada pasien yang mondok sekitar 600.000 episode per tahun. Infeksi ini merupakan lebih dari semua bakteremia setiap tahun.

ISK merupakan masalah kesehatan yang dipandang dari proporsi populasi yang terkena dan sekuele serta kejadian bakteriuria, kemungkinan sekuele bakterimia yang disebabkan oleh bakteri gram negatif lebih sering didahului oleh bakteriuria daripada oleh infeksi lain apapun. Diduga bahwa sekitar 25% dari 70.000 sampai 150.000 kejadian bakteremia yang dilaporkan setiap tahun terbukti mematikan. Untungnya ada bukti bahwa deteksi awal, pemberantasan bakteriuria, dan pencegahan kekambuhan mengurangi insidensi kematian ISK (Shulman et al, 1994).

ISK pada anak sering ditemukan dengan sifat berulang serta dapat merupakan penyakit yang mengancam hidup ataupun awal dari penyakit ginjal di masa dewasa (Margilet et al, 1976, cit. Sardjito et al, 1983). Kerusakan ginjal yang disebabkan oleh ISK terjadi di masa anak-anak. Dengan demikian adalah penting untuk menegakkan diagnosis dini dan memberikan pengobatan yang sesuai (Jones, 1979, cit. Sardjito et al, 1983).

Penyebaran ke ginjal secara hematogen adalah yang paling banyak terjadi pada neonatus, sedang pada anak yang lebih besar penyebaran terjadi melalui urethra. Bila tidak ditangani dengan baik dapat terjadi sepsis dan kerusakan parenkim ginjal (Valenti dan Reese 1987).

Kira-kira 40% dari anak-anak dengan infeksi saluran kemih akan mengalami infeksi berulang serta vesico urethral reflux, sebagian dari mereka akan mengalami parut ginjal dikemudian hari (Sardjito et al, 1985).

Insidensi ISK pada neonatus kurang dari 1%, baik pada laki-laki maupun perempuan, 2% pada bayi usia 1 bulan sampai 2 tahun dan 5% pada gadis usia sekolah. Setelah periode neonatal insidensi pada anak perempuan dibanding anak laki-laki meningkat (10-25 : 1), hal ini disebabkan karena urethra yang lebih pendek pada perempuan dibanding laki-laki (Valenti dan Reese, 1986 ; Nelson, 1992).

Penanganan ISK pada anak, dimulai dengan pemeriksaan urine, minimal diambil urin mid stream, untuk memperkecil kemungkinan kontamonasi bakteri dari urethra, regio perianal dan vagina. Dan lebih baik lagi bila urine diambil dengan pungsi suprapubik, karena sangat kecil kemungkinan kontaminasi.

I. Definisi

Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah keadaan adanya infeksi (ada perkembangbiakan bakteri ) dalam saluran kemih, meliputi infeksi di parenkim ginjal sampai infeksi di kandung kemih dengan jumlah bakteriuria yang bermakna. Bakteriuria bermakna adalah bila ditemukan pada biakan urin pertumbuhan bakteri sejumlah >100.000 per ml urin segar ( yang diperoleh dengan cara pengambilan yang steril atau tanpa kontaminasi ). Pada definisi ISK, diperlukan hasil biakan urin segar yang diperoleh secara steril atau katerisasi dengan jumlah pertumbuhan bakteri >100.000 per ml urin. Bila urin diperoleh dengan cara aspirasi suprapubik, setiap ada pertumbuhan bakteri diangggap bakteriuria bermakna (Alatas et al, 1993). Bakteriuria bermakna merupakan bukti diagnostik adanya ISK ( Kosnadi et al, 1989). Menurut Fauci et al (1998), infeksi saluran kemih akut dapat dibagi menurut kategori anatomi saluran kemih, yaitu : ISK bagian atas ( pielonefritis akut, abses intrarenal, perinefrik ) dan ISK bagian bawah ( uretritis, sistitis, dan prostatitis ). Menurut Behrman et al (1992), meskipun klasifikasi infeksi bakteri berdasarkan daerah yang terlibat, misal kandung kemih (sistitis) atau ginjal (pielonefritis) banyak menfaatnya, tetapi pada anak-anak biasanya tidak mungkin memastikan bahwa infeksi hanya terbatas pada bagian atas, bagian bawah atau keduanya.

Bakteriuria dapat menyebabkan pelbagai bentuk dan wujud klinik. Bakteriuria asimtomatik mungkin menggambarkan keberadaan bakteri yang terbatas pada mukosa kandung kemih atau pada kemih di dalam kandung kemih (Shulman et al, 1994). Bakteriuria asimtomatik merupakan ditemukannya bakteriuria bermakna pada anak yang kelihatannya sehat tanpa gejala klinik ISK (disuria, polakisuria, urgensi, demam, sakit pinggang atau nyeri sudut kostovertebral); hal seperti ini sering ditemukan pada anak perempuan usia sekolah. Bakteriuria simtomatik merupakan bakteriuria bermakna yang disertai tanda atau gejala klinik yang khas (tergantung lokasi ISK) (Kosnadi et al, 1989). Misalnya pada pielonefritis akut gejala yang menonjol adalah disuria dan frekuensi (Brecker et al, 1992).

ISK simpleks adalah ISK yang tanpa lesi anatomik maupun fungsional saluran kemih. ISK kompleks adalah ISK yang disertai lesi anatomis ataupun fungsional yang menyebabkan obstruksi mekanik maupun fungsional saluran kemih, misalnya sumbatan muara urethra, refluks vesikoureteral, urolitiasis, jaringan parut ginjal, kandung kemih neurogenik, dan lain-lain (Alatas et al, 1993). Kosnadi et al (1989) menggunakan istilah ISK ‘’uncomplicated” atau ISK non-obstruktif sebagai sinonim ISK simpleks, yaitu ISK yang tidak dijumpai kelainan radiologik, dan ISK “complicated” sebagai sinonim ISK kompleks, yaitu ISK dengan kelainan radiologik.

II. EPIDEMIOLOGI

ISK dapat menyerang manusia sejak masa neonatus hingga dewasa. Angka prevalensi ISK pada anak yang dilaporkan oleh para peneliti bervariasi luas, tergantung dari kasusnya, apakah simtomatik ataupun asimtomatik, kriteria diagnosis, usia dan jenis kelamin anak, serta kehidupan alami kelompok populasi yang diteliti (Adelman, 1984, cit. Kosnadi et al, 1989).

Pada umumnya ISK pada perempuan lebih banyak dari laki-laki, baik pada anak ataupun pada orang dewasa (Alatas et al, 1993). Pada anak perempuan 10 kali lebih besar daripada anak laki-laki, kecuali pada masa bayi dimana rasionya hampir berimbang. Anomali struktural kongenital saluran kemih pada masa bayi agaknya bertanggung jawab sebagian terhadap insidensi yang lebih tinggi pada anak laki-laki (Behrman et al, 1992). Pada masa neonatus atau pada masa awal bayi, ISK lebih sering pada laki-laki (75%-80%) daripada perempuan (20%-25%), alasan yang tepat mengenai hal ini masih belum jelas, tetapi disangka karena meningkatnya kerentanan terhadap sepsis dan infeksi bakteri lainnya pada masa awal bayi anak laki-laki (Alatas et al, 1993). Selama masa anak-anak dan usia prasekolah, insidensi ISK lebih rendah pada laki-laki daripada perempuan masing-masing (0,5% dan 3-5%) serta ketika infeksi terjadi pada anak laki-laki, hal tersebut sering berkaitan dengan abnormalitas kongenital yang serius (Roberts, 1986).

Menurut Hassan dan Alatas (1985), pada masa neonatus sampai umur 3 bulan ISK lebih banyak ditemukan pada bayi laki-laki. Pada bayi usia 3 bulan sampai 1 tahun insidensi pada laki-laki sama dengan perempuan, sedangkan pada usia pra sekolah jumlah penderita perempuan 3-4 kali lebih banyak daripada laki-laki. Diduga faktor urethra yang lebih pendek pada perempuan berperan dalam hal tersebut.

Pada usia 2-14 tahun, diperkirakan resiko ISK simtomatik pada anak laki-laki adalah 1,6 per 1000 per tahun, sedangkan pada anak perempuan adalah 3,8 per 1000 per tahun (Alatas et al, 1993).

Menurut Chaban et al (1995), resiko kumulatif untuk ISK simtomatik pada 10 tahun pertama masa hidup adalah sekitar 1% untuk anak laki-laki dan 3% untuk anak perempuan. Sebanyak 30% dari anak laki-laki dan 40% dari anak perempuan akan mengalami ISK berulang dalam 1 tahun setelah infeksi primer. Lebih jauh lagi, studi retrospektif telah memperkirakan antara 0,3%-1,2% dari bayi akan mengalami ISK selama 1 tahun pertama kehidupan. Pada anak-anak, ISK secara signifikan lebih banyak terjadi pada perempuan dan menjadi sekitar 50 kali lebih sering pada perempuan dengan umur 5 tahun.

Program skrining pada anak sekolah yang tampak sehat umumnya menunjukkan bahwa 1%-2% anak perempuan menderita ISK aktif yang biasanya asimtomatik. Sekitar 5% atau lebih mengalami sedikitnya satu kali infeksi demikian sebelum dewasa (Behrman et al, 1992). Bakteriuria asimtomatik 10 kali lebih sering pada neonatus laki-laki daripada neonatus perempuan, dimana insidensi masing-masing 1,5% dan 0,137% (Shulman et al, 1994). Menurut Alatas et al (1993), bakteriuria asimtomatik di bawah umur 2 tahun terjadi 1,5% pada anak laki-laki dan 0,18% pada anak perempuan, sedangkan insidensi pada tahun pertama kehidupan adalah 0,9% pada anak perempuan dan 2,5% pada anak laki-laki. Ashcraft (1990) melaporkan bahwa 25% dari bayi dengan bakteriuria asimtomatik akan berkembang menjadi ISK bagian atas.

Beberapa kasus ISK adalah asimtomatik, pada umumnya terjadi pada anak perempuan usia sekolah (Roberts, 1986). Dari umur 5 tahun sampai dewasa, prevalensi bakteriuria pada laki-laki sangat rendah dan bervariasi antara 0,03%-0,1%, sedangkan pada perempuan antara umur 5-16 tahun frekuensinya 1% dan sepertiganya adalah asimtomatis (Mandell and Ralph, 1985).

III. ETIOLOGI

Kuman penyebab infeksi saluran kemih yang utama adalah E. Coli (Sidabutar, 1984; Sardjito et al, 1985; Lydiakosnadi et al, 1987). Kuman lain yang menyebabkan adalah Klebsiela, Enterobakter, Proteus, Pseudomonas (Andrianto, 1988; Sidabutar, 1984). Pendapat lain menyatakan selain kuman diatas, kuman penyebab yang lain adalah Stapilococcus Epidermidis, Normal rectal dan normal perineal flora (Kempl et al, 1980). Pendapat lain mengatakan kuman penyebab infeksi saluran kemih adalah : E. Colli, Klebsiela, Paracolon, Proteus mirabilis, Pseudomonas, Enterococcus, Staphylococcus (Rubin, 1976). Menurut Thaman bakteri penyebab infeksi saluran kemih antara lain Aerobacter aerogenes, Streptococcus faecalis. Beberapa kasus subakut dan kronis yang disebabkan Tuberculosis dipisahkan dalam kelompok sendiri (Thaman et al, 1984).

Pada masa bayi, kuman penyebabnya adalah E. Coli. Dengan bertambahnya umur anak, kuman penyebabnya adalah Proteus dan Klebsiela, yang kebanyakan resisten terhadap antibiotik (Sardjito et al, 1985). Pada infeksi saluran kemih tanpa komplikasi, kuman penyebab terbanyak adalah E. Coli, baru kemudian diikuti yang lain. Sedangkan kasus dengan komplikasi dan sudah mendapat antibiotik berkali-kali, ada kecendrungan E. Coli agak jarang sedang kuman yang lain meningkat (Widayat, 1989).

IV. PATOGENESIS DAN PATOFISIOLOGI

Kuman dalam saluran kemih dapat melalui tiga jalan; yaitu melalui darah (septikemia), secara ascendens melalui urethra terus ke kandung kemih dan akhirnya sampai ke ginjal dan dapat pula melalui saluran limfatik sepanjang ureter, sedangkan yang paling sering ialah infeksi secara ascendens (Roch, 1972, cit Damanik, 1983). Infeksi dapat terjadi melalui penyebaran hematogen (neonatus) atau secara ascendens (anak-anak). Faktor predisposisi terjadinya adalah fimosis, alir balik vesico ureter, uropati obstruktif, kelainan kongenital buli-buli atau ginjal dan diapper rash (Andrianto, 1985). Infeksi saluran kencing pada umumnya disebabkan oleh bakteri yang berasal dari daerah sekitar kemaluan, pada wanita hal ini dapat terjadi karena terbilasnya mulut uretra oleh air kencing, disamping itu trauma, instrumentasi, tekanan dapat pula menjadi penyebab masuknya bakteri ke dalam kandung kencing (Sidabutar, 1984).

Setelah bakteria berada di dalam kandung kemih, maka urine akan merupakan media bagi bakteria tersebut, tetapi infeksi tidak terjadi karena pengeluaran urine pada waktu berkemih. Adanya benda asing, obstruksi traktus urinarius (anomali) dan interekuensi (berkemih yang tidak tuntas), dapat memungkinkan terjadinya kontaminasi bakteri yang sementara pada kandung kemih, yang memungkinkan dapat progresif menjadi ISK yang sesungguhnya (Lum et al, 1984).

Infeksi rekuren pada kandung kemih, dapat menyebabkan kerusakan katub vesiko-ureter, yang dapat menyebabkan terjadinya refluks vesiko-uretral (Nelson, 1992).

Infeksi saluran kemih bagian bawah akan menyebabkan mukosa kandung kemih meradang dan edema, perdarahan dapat terjadi. Pasien mengalami urin bercampur darah. Kerusakan ginjal diperburuk oleh episode infeksi akut, gangguan keseimbangan cairan elektrolit, gangguan mineral, dan metabolit, anemia, obat diuretik dan diet tinggi protein (Thaman et al, 1984).

Refluks vesiko-uretral sering terjadi pada anak yang terkena ISK, hal ini dapat menyebabkan masuknya bakteria ke ginjal yang dapat berakibat terjadinya pyelonefritis dan kerusakan ginjal (Lum et al, 1984; Winberg, 1987; Nelson, 1992). Infeksi parenkim ginjal dapat pula terjadi secara hematogen terutama pada bayi, yaitu bila terjadi septikemia (Nelson, 1992).

Mandell dan Ralph (1985) memaparkan faktor-faktor yang berperan sangat penting dalam patogenesis ISK, yaitu : kolonisasi kuman di uretra yang memungkinkan rute infeksi asenden; anomali saluran kemih baik struktural, fungsional, maupun adanya benda asing; gangguan sistem pertahanan lokal mukosa saluran kemih; dan virulensi bakteri yang memungkinkannya melekat pada permukaan sel uroepitelium.

Stanley (1982), cit. Hasan dan Alatas (1997) dalam penyelidikannya menyebutkan adanya mekanisme perlekatan bakteri pada permukaan sel uroepitelium yang berbeda menyebabkan seorang penderita peka dan yang lainnya resisten terhadap ISK. Alatas et al (1993) menyatakan bahwa bakteri uropatogenik yang melekat pada permukaan sel uroepitel dapat mempengaruhi kontraktilitas otot polos dinding ureter dan menyebabkan gangguan peristaltiknya, mlekatnya bakteri ke permukaan sel uroepitelium ini akan meningkatkan virulensi bakteri tersebut.

Kronologis patogenesis ISK yang timbulnya secara asenden serta komplikasi yang dapat terjadi menurut Weinberg et al (1982), cit. Kosnadi et al (1989) adalah sebagai berikut :

1. Kolonisasi flora usus (E. Coli dan lain-lain) di usus atau Staphylococcus di kulit atau Proteus di preputium.

2. Migrasi kuman di periureteral dan introitus vaginae.

3. Kolonisasi kuman di uretra distal dan introitus vaginae.

4. Migrasi asenden kuman lewat uretra ke dalam kandung kemih.

5. Kolonisasi kuman di kandung kemih sehingga menimbulkan infeksi dan peradangan kandung kemih (sistitis).

6. Kuman harus bisa mengatasi hidrodinamika aliran urin dan melawan mekanisme pertahanan lokal mukosa saluran kemih (sifat virulensi kuman).

7. Migrasi asenden kuman lewat urter ke ginjal.

8. Kolonisasi kuman di medula ginjal sehingga menimbulkan infeksi dan peradangan ginjal (pielonefritis akut)

9. Komplikasi bakteremia (urosepsis), piellonefritis kronik, kerusakan ginjal (jaringan parut ginjal), penurunan fungsi ginjal.

Infeksi parenkim ginjal dapat pula terjadi secara hematogen; rute ini lebih umum pada bayi, yaitu menyertai septikemia. Telah diketahui bahwa bakteremia sering terjadi (30%) pada neonatus dan bayi di bawah 3 bulan. Pada anak yang lebih besar, penyebaran infeksi secara hematogen sampai ke saluran kemih (pielonefritis akut) adalah karateristik dari bakteremia karena virulensi bakteri tersebut, seperti S. aureus, P. aeruginosa, Serratia sp. dan kuman tuberkulosis (Alatas et al, 1993).

Bakteri termasuk mikrobakteria serta jamur dapat menginvasi ginjal, kandung kemih, prostat dengan penyebaran hematogen dari fokus infeksi yang jauh. Kenyataannya infeksi jamur dan mikrobakteria saluran kemih biasanya terjadi melalui mekanisme ini, sama halnya abses korteks ginjal dan perirenal yang disebabkan oleh stafilokokus dan streptokokus grup A biasanya akibat bakteremi bersama dengan organ di tempat lain yang meluas (Shulman et al, 1994).

Perluasan bakteri langsung dari mikroflora usus ke dalam kandung kemih, seperti pada fistula kolovesikalis terkait denngan divertikulitis kolon, jarang tetapi merupakan penyebab bakteriuria rekuren yang penting. Infeksi biasanya berulang, disebabkan oleh beberapa spesies bakteri usus yang berbeda dan disertai oleh pneumaturia (udara dalam urin) (Shulman et al, 19994).

V. FAKTOR – FAKTOR PREDISPOSISI

Terjadinya ISK pada anak dapat didukung oleh faktor-faktor :

Umur dan seks : Kira-kira 1% pada neonatus terjadi ISK yang kadang berhubungan dengan bakteremia, pada periode ini ISK lebih berkembang pada bayi laki-laki daripada perempuan. Setelah periode neonatus ISK jarang atau tidak umum terjadi sampai usia sebelum dewasa pada anak laki-laki. Kejadian ISK yang tinggi, terjadi pada bayi dan anak perempuan usia pra sekolah. Hal ini dikarenakan kontaminasi fekal perineal, pendeknya urethra, abnormalitas frekuensi berkemih dan pengosongan kandung kemih yang tidak adekuat.

Organisme : walaupun virus sering sekali di ekskresikan dalam urin tapi jarang menyebabkan ISK. Penyebab yang paling umum adalah bakteri. Bakteri yang paling sering adalah E. Coli, Klebsiela, Enterik, Streptococcus dan Stphylococcus epidermidis serta semua flora normal pada rectal dan perineal.

Rute infeksi : anomali traktus urinarius dan frekuensi berkemih yang abnormal atau pengosongan kandung kemih yang tidak adekuat memungkinkan untuk perpindahan bakteri yang dapat mengakibatkan kontaminasi kandung kemih yang dapat berkembang menjadi ISK persisten. Refluks vesico-urethralis jarang terlihat pada anak-anak dan bakteri bisa masuk sampai ke ginjal sebagai akibat dari pyelonefritis dan kerusakan ginjal.

VI. GEJALA KLINIS

Gejala-gejala infeksi saluran kemih bawah yaitu seperti ingin kencing dan air kemih berbau, hanya dapat diketahui melalui observasi dan anamnesis yang teliti (Sardjito et al, 1985). Pendapat ini mengatakan gambaran klinik tergantung pada apa yang sedang berlangsung yaitu : sub akut, kronik, umur pasien, malformasi kongenital, faktor etiologi dan diperberat oleh gangguan produksi oleh makanan dan obat-obatan (Thaman et al, 1984).

Gejala klinis pada anak sekolah adalah klasik dari infeksi saluran kemih, termasuk aneuresis, penambahan frekuensi urin, disuria, nyeri panggul (Kempl, 1980). Pada umur 0-2 tahun gejala klinisnya adalah, gengguan pertumbuhan, anoreksia, muntah dan diare, kejang, koma, panas atau hipotermi tanpa diketahui (Andrianto, 1988; Durbin et al, 1984). Escherih (1954), mengatakan pada anak umur 2-6 tahun peradangan saluran kemih menyebabkan sakit yang mendadak dan disertai panas. Kadang-kadang pada anak dengan infeksi saluran kemih bakterial datang dengan perdarahan cystitis (Kempl et al, 1980).

Gejala pada anak berupa : demam, nyeri panggul, nyeri perut hebat, polymorphonuclear, leucocytosis, kenaikan kecepatan enap darah, kenaikan c-reaktif protein biasanya pyelonefritis. Anak dengan cystitis gejalanya berupa : kenaikan frekuensi berkemih, disuria, kencing yang membakar, kencing berbau menusuk, aneuresis berulang. Harus dicatat bahwa anak-anak dengan tanda klasik dan tanda cystitis berat sering tidak menderita infeksi saluran kemih tetapi iritasi urethral disebabkan beberapa kasus : mandi dengan busa, feminine hygiene sprays, vaginitis, cacing kremi, masturbasi (Kempl et al, 1980).

VII. DIAGNOSIS

Diagnosis dapat ditegakkan berdasar pada tanda dan simtom serta tes laboratorium.

Tanda dan simtom : pada bayi baru lahir timbul demam, hipotermia, nafsu makan (ASI) yang menurun, ikterus, kegagalan pertumbuhan atau sepsis pada bayi timbul demam yang tidak diketahui sebabnya, berkurangnya nafsu makan yang mengakibatkan kegagalan pertumbuhan, kesakitan waktu kencing, dan iritabel. Pada anak pra sekolah timbul nyeri abdominal, muntah, demam, kesakitan waktu kencing, urgensi, frekuensi sampai disuria. Pada anak usia sekolah timbul tanda klasik dari ISK, meliputi : urgensi, frekuensi sampai disuria, demam, atau nyeri panggul. Kadang-kadang anak dengan ISK bakterial disertai dengan cystitis hemoragik. Semua grup umum diatas bila menderita ISK asimtomatik dapat menyebabkan kerusakan ginjal terutama pada bayi dan anak kemungkinan dapat berkembang menjadi refluks vesikourethral. Anak penderita ISK yang disertai dengan demam, nyeri panggul, nyeri abdominal, maningkatnya lekosit PMN di dalam darah, peningkatan jumlah sedimen, atau peningkatan c-reaktive protein biasanya membuktikan adanya pyelonefritis. Anak yang menderita ISK asimtomatik dan disertai adanya infesi traktus urinarius bagian bawah yang bisa pula disertai dengan infeksi traktus urinarius bagian atas yang asimtomatik, hati-hati terhadap anak yang mempunyai tanda klasik dan cystitis sering kali bukan ISK tetapi karena iritasi urethral atau karena sebab lain misalnya vaginitis.

Tes laboratorik :

1. Perolehan spesimen : pengambilan kemih aliran tengah (mid stream), memberikan penaksiran yang akurat mengenai keadaan bakteri dalam kandung kemih tetapi pada 10-20% memberikan hasil positif palsu, hal ini disebabkan karena kontaminasi pada jumlah hitung bakteri , 100.000 bakteri/mm³ terutama pada penderita dengan diet tinggi cairan, pengambilan kemih dengan kateter dapat dilakukan bila volume kemih masih kecil.

2. Disuria, dibawah mikroskop (mikroskopis) ditemukan > 5 lekosit/mm³ urine dan sedimen kira-kira 50% terjadi pada pasien ISK pyuria, peningkatan lekosit dalam urin karena kontaminasi vagina, appendisitis, infeksi virus, selain ISK sehingga piuria tidak dapat dijadikan dasar sebagai diagnosis.

3. Bakteriuria mikroskopik, observasi pada mikroskop dengan pembesaran 40X bila ditemukan sedimen dalam urin > 100 bakteri/lapang pandang mata setara dengan > 100.000 bakteri/ml urin.

4. Kultur urin, merupakan cara utama untuk menegakkan diagnosa digunakan metode piring petri metode agar membedded dipslide dan berguna untuk menentukan jenis kuman dan sensitivitas test.

5. Deteksi non kultur, merupakan tes evaluasi utnuk mendeteksi adanya perubahan kimia tentang glukosa urin dan nitrit urin. Tes tersebut hanya dikerjakan dengan menggunakan urin pertama pagi hari (mid stream) dan urin malam sebelumnya, keuntungan dari metode ini ialah dapat menekan hasil positif palsu yang dapat terjadi.

6. Untuk membantu menegakkan diagnosis ISK dengan tepat. Bila pasien disertai simtom iSK yang jelas, maka pengambilan urin dilakukan dengan cara katerisasi dan aspirasi suprapubik untuk menghindari kontaminasi. Jika ditemukan bakteri dalam bentuk sedimen atau hitung bakteri > 100.000 bakteri/mm³ urin menunjukkan adanya ISK (Lum et al, 1984).

VIII. KOMPLIKASI

Infeksi saluran kemih jika tidak dilakukan secara adekuat akan menimbulkan suatu keadaan penyakit seperti penurunan fungsi ginjal, batu saluran kemih, gagal ginjal menahun, hipertensi ginjal, pielonefritis kronis, kista ginjal, hidronefrosis.

IX. TERAPI

Prinsip umum penanganan ISK pada anak meliputi : diagnosis dini melalui pemeriksaan fisik lengkap urinalisis dan biakan urin, pemberian antibiotik segera tanpa menunggu hasil biakan, mencari infeksi berulang, mencari faktor predisposisi, merencanakan penanganan atau pengobatan selanjutnya, dan tindak lanjut sampai diyakini bahwa resiko kerusakan ginjal telah dapat diatasi (Smellie, 1994).

Ada berbagai obat yang biasa digunakan untuk pengobatan pada infeksi saluran kemih anak yaitu :

1. Trimetoprin : Bersifat bakteriostatik, obat ini digunakan pada reinfeksi saluran kemih, tetapi supresif bakteriuria persisten juga sebagai profilaksis infeksi saluran kemih akut.

2. Trimetoprin sulfametoksazol : Bersifat bakteriostatik, dapat digunakan pada reinfeksi saluran kemih berkomplikasi bakteriuria, anti proliferasi mikrobakterial dan sebagai terapi pada reinfeksi saluran kemih.

3. Nitrofurontoin : Bersifat bakteriosid dan bakteristatik, dapat juga sebagai antiseptik. Digunakan reinfeksi saluran kemih anti proliferasi mikrobial profilaksi tetapi jangan diberikan pada neonatus karena bersifat hepatotoksik, efektif untuk infeksi karena kuman E. Coli dan Proteus.

4. Amoxicillin : Bersifat bakteriosid, digunakan pada reinfeksi saluran kemih dan terapi kuratif, tetapi dapat menyebabkan resistensi terhadap bakteri gram negatif pada fecal oral, terhadap kuman E. Coli dan Proteus mirabilis.

5. Penicillin G : Bersifat bakteriosid, digunakan pada reinfeksi saluran kemih, efektif terhadap kuman E. Coli, Proteus mirabilis dan Enterococcus.

6. Sulfonamid : Bersifat bakteriostatik dalam dosis yang besar, digunakan pada reinfeksi saluran kemih, dan neonatus yang mengalami kern ikterus dan hiperbilirubinemia, efektif terhadap kuman E. Coli, Klebsiela, Enterobacter, Proteus dan S. aureus.

7. Aminoglokosid : Bersifat bakteriosid, golongan ini mencakup Kanamicin, Neomicin, Gentamicin, Tobramisin. Golongan ini juga bersifat ototoksik dan nefrotoksik dalam berbagai tingkat.

8. Kanamicin dan neomisin efektif terhadap Proteus.

9. Amikasin, efektif terhadap Proteus, Pseudomonas, Enterobacter, Serratia.

10. Gentamisin, efektif terhadap koliform (E. Coli, Klebsiela, Enterobacter), Pseudomonas aeruginosa, Proteus dan Serratia.

11. Tobramisin, efektif terhadap Pseudomonas dan serratia.

12. Sefalosporin generasi ketiga, obat ini digunakan sebagai pilihan kedua setelah penisilin bersifat bakteriosid, efektif terhadap gram negatif dan dapat dibarikan kepada penderita yang alergi terhadap penisilin. { Bernard et al (1973); Jackson (1989); Ernest (1989); Yanti (1987); Setiabudi (1987); Vincent dan Yati (1987); Vincent dan Sulistia (1987) }.

X. PROGNOSIS

Infeksi saluran kemih tanpa kelainan anatomis mempunyai prognosis lebih baik bila dilakukan pengobatan pada fase akut yang adekuat dan disertai pengawasan terhadap kemungkinan infeksi berulang. Prognosis jangka panjang pada sebagian besar penderita dengan kelainan anatomis umumnya kurang memuaskan meskipun telah diberikan pengobatan yang adekuat dan dilakukan koreksi bedah, hal ini terjadi terutama pada penderita dengan nefropati refluks. Deteksi dini terhadap adanya kelainan anatomis, pengobatan yang segera pada fase akut, kerjasama yang baik antara dokter, ahli bedah urologi dan orang tua penderita sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya perburukan yang mengarah ke fase terminal gagal ginjal kronis.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 18, 2009 in Pediatrik

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: