RSS

Gangguan Cemas Pada Ibu Hamil

15 Mar

Kehamilan merupakan salah satu ekspresi perwujudan diri, perwujudan identitas sebagai calon ibu dan ayah. Kebanggaan tersendiri bagi wanita dan mewujudkan feminisme, dan untuk menunjukkan jati diri seorang wanita tersebut kadang – kadang memrlukan biaya yang tidak sedikit, lagipula dengan adanya program KB ini maka keselamatan dalam kehamilan sangat diperhatikan (1).

Seorang wanita hamil tidak hanya mengalami proses – proses somatik, tetapi juga mengalami implikasi – implikasi psikologik yang mendalam dan membekas. Perkembangan proses somatik banyak ditentukan oleh keadaan anatomik dan fisiologi, sedang sifat – sifat pengalaman fisiologis sangat erat hubungannya dengan perasaan ibu terhadap dirinya sendiri, terhadap anak yang dikandungnya, terhadap suaminya, dan juga terhadap lingkungan sekitarnya.

Kehamilan dan persalinan adalah salah satu rantai kejadian dalam perkembangan manusia dari lahir sampai mati. Dan setiap perubahan – perubahan kehidupan merupakan stressor pada kehidupan. Pada sebagian wanita, kehamilan dan persalinan merupakan stressor yang minimal dan sebagian besar merupakan saat yang membahagiakan dalam kehidupan. Kemampuan dalam menghadapi keadaan tersebut tergantung pada usia, pendidikan, maturitas, kepribadian, pengalaman kehamilan dan persalinan sebelumnya, dan keadaan sosial ekonomi.(2)

Perasaan cemas seringkali menyertai kehamilan terutama pada seorang ibu yang labil jiwanya. Kecemasan ini mencapai klimaksnya nanti pada saat persalinan. Rasa nyeri pada waktu persalinan sudah sejak dahulu menjadi pokok pembicaraan para wanita. Oleh karena itu banyak calon ibu yang muda belia menghadapi kelahiran anaknya dengan perasaan takut dan cemas.(3) Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa wanita – wanita yang mengalami kecemasan sewaktu hamil akan lebih banyak mengalami persalinan abnormal.(4)

Sekarang disadari bahwa penyakit dan komplikasi obstetrik tidak hanya disebabkan gangguan organik. Beberapa diantaranya ditimbulkan atau diperberat oleh gangguan psikologik seperti hiperemesis gravudarum, abortus, pre – eklampsi dan eklampsi, serta persalinan lama.(5)

Mengingat kecemasan mempunyai akibat yang buruk pada kehamilan maka perlu dilakukan tindakan pencegahan dan pengobatan bila diperlukan agar tidak menimbulkan komplikasi dan penyakit pada kehamilan.

A. Kecemasan

  1. Pengertian Kecemasan

Kecemasan merupakan reaksi normal terhadap perubahan lingkungan yang membawa perasaan yang tiodak senang atau tidak nyaman yang disebabkan oleh dugaan akan bahaya atau frustasi yang mengancam, membahayakan rasa aman, keseimbangan atau kehidupan seorang individu atau kelompok biososialnya.(6) Selain itu kecemasan adalah perasaan yang menyebar, yang sangat tidak menyenangkan, agak tidak menentu dan kabur tentang sesuatu yang akan terjadi. Perasaan ini sering disertai dengan satu atau beberapa reaksi badaniah yang khas dan yang akan datang berulang bagi seseorang. Perasaan ini dapat berupa rasa kosong di pusat perut, dada sesak, jantung berdebar, keringat berlebihan, sakit kepala, rasa ingin bergerak dan gelisah.(7)

Pada umumnya para ahli membedakan antara kecemasan dan ketakutan. Ketakutan merupakan respon terhadap bahaya dari luar yang sifatnya nyata, sedangkan pada kecemasan bahaya itu kabur. Misalnya adanya perasaan tertentu yang muncul di bawah kesadaran. Hal ini dapat terjadi karena kekecewaan, ketidakpuasan, tidak aman atau adanya permusuhan dengan orang lain.(8)

  1. Psikodinamika Kecemasan

Freud menyatakan bahwa pengalaman tidak menyenangkan ditekan dari alam kesadaran ke alam tidak sadar ( unconcious ) adalah untuk menghindari realitas. Terdapat 3 komponen mental menurut Freud yaitu id, Ego dan superego yang mewakili kesadaran dan pribadi individu menerima stimulasi dari lingkungan hidup melalui kelima panca indra dan bertugas memperingatkan individu untuk bersiaga dalam menentukan respon tertentu terhadap stimulaasi tersebut.. Kecuali stimulasi dari lingkungan, ego juga menerima stimulasi dari dunia psikis yang dalam atau dunia bawah sadar. Apabila stimulasi dari dunia bawah sadar ini bersifat mengancam, lahirlah kecemasan.3

  1. Manifestasi Kecemasan

Apabila seseorang mengalami kecemasan, maka manifestasi yang ditampakkan adalah : berkeringat, dada berdebar-debar, tangan gemetar, otot menegang dan mungkin bicaranya juga tidak lancar.

Bentuk dari kecemasan memang bermacam-macam. Para ahli membaginya dalam 2 tingkat :

a. Tingkat psikologis, yaitu kecemasan yang berwujud sebagai gejala –gejala kejiwaan, seperti tegang,bingung, khawatir, sukar berkonsentrasi, perasaan tidak menentu.

b. Tingkat fisiologis, yaitu kecemasan yang sudah mempengaruhi atau terwujud pada gejala –gejala fisik, terutama pada fungsi saraf, misalnya tidak dapat tidur, jantung berdebar-debar, keringat berlebihan, sering mual, gemetar, muka merah dan sukar bernafas.

Pada saat timbul kecemasan seseorang akan sering bertindak untuk menghadapi segala kemungkinan melawan atau melarikan diri (fight or flight reaction). Seseorang penderita kecemasan akan melakukan mekanisme pembelaan tertentu, dapat berupa regresi, depresi, rasionalisasi, menarik diri, agresi salah pindah, proyeksi, identifikasi dan lain-lain tergantung kepribadian orang tersebut dan juga pada pengaruh lingkungan sosial yang dapat berupa pandangan hidup, kepercayaan masysrakat, adat istiadat dalam keluarga, pengaruh teman dan sebagainya.

4. Konsep-Konsep Kecemasan

Konsep kecemasan dalam faham eksistensialisme mengemukakan bahwa eksistensi manusia adalah seseuatu yang berciri khas baginya. Dalam eksistensi manusia yang otentik, manusia itu penuh bertanggung jawab atas perbuatannya dalam kehidupannya. Dalam usahanya untuk mencapai eksistensi yang otentik manusia akan mengalami kecemasan eksistensial. Hal ini berarti dia harus mengakui antara lain keterbatasan dirinya, kekurangan-kekurangannya, dan akhirnya akan mati. Dalam rangka pemikiran yang demikian, maka kecemasan adalah cirir yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, dan lebih daripada itu merupakan ciri khas dari kemanusiaannya. Manusia adalah makhluk yang memproyeksikan dirinya ke masa depan sehingga berusaha mengembangkan seperti potensi dan kemampuan yang dimilikinya, dengan memperhitungkan segala resiko dan kegagalan, sehingga timbullah perasaan was-was cemas, dan tidak menentu.9

Kecemasan dianggap hal yang patologis apabila:

· Kecemasan ini timbul hanya karena peristiwa kecil atau terjadi tanpa sebab.

· Kecemasan ini luar biasa (demikian hebat) dan persisten.10

B. Kehamilan Sebagai Pencetus Kecemasan

Kehamilan menandai akan hadirnya manusia baru dengan segala kemungkinan, harapan, kebahagiaan, dan kekecewaan. Seorang wanita hamil mungkin telah siap menampung hasil pembuahan, tetapi dari segi kejiwaan belum tentu siap. Pengalaman masa kanak-kanak, pengetahuan tentang kehamilan dan persalinan atau pengalaman sendiri pada kehamilan sebelumnya akan ikut mempengaruhi makna kehamilan tersebut. 11

Seorang wanita hamil biasanya mengalami perasaan ambivalensi. Suatu perasaan yang bersifat menginginkan dan menolak terhadap kehadiran bayinya. Perasaan menginginkan, kebahagiaan, dan lain-lain dapat diekspresikan secara bebas dan tidak menimbulkan perasaan bersalah, ketakutan, dan kecemasan. Perasaan menolak kurang dapat diekspresikan secara bebas serta kadang-kadang perasaan ini sebagian besar tidak disadari. Perasaan menolak meliputi cemas dan takut akan sakit waktu melahirkan, terutama kelainan pada persalinan sebelumnya, kehilangan sifat menarik, perasaan tidak nyaman akibat pembesaran abdomen, terganggunya pekerjaan dan aktifitas sosial, kelelahan, kesediaan merawat bayi,
masalah biaya, perasaan cemas atau bertanggung jawab sebagai ibu. 2,3

Pada umumnya peristiwa kehamilan itu akan diterima dengan baik oleh si ibu, gangguan-gangguan yang dideritanya, pembatasan-pembatasan yang dialaminya, serta perubahan-perubahan yang ditimbulkannya akan diterima dengan baik. Bahkan rasa takut menghadapi partusnya dapat diatasi atau diimbangi dengan harapan memperoleh anak yang menjadi buah hatinya dan sebagai pengikat cinta mesra suami terhadap dirinya, lebih-lebih kalau hal itu ditambah keyakinan bahwa ia akan mendapat pertolongan yang diperlukan tepat pada waktunya. Sikap jiwa yang positif demikian ini merupakan inti dari kesehatan jiwa, biasanya telah diawali keadaan yang menguntungkan bagi si ibu seperti tersebut dibawah ini :

1. Ibu sendiri telah mengalami masa kanak-kanak yan menyenangkan.

2. Anak yang dikandungnya memang merupakan ‘a wanted child’, baik oleh ibu sendiri maupun oleh suaminya.

3. Ibu itu tidak khawatir akan kekurangan atau kesulitan materiil, misalnya biaya perawatan, perumahan, pendidikan, dan nasib anaknya yang akan datang.

4. Bagi ibu yang beragama, maka kehamilannya akan dipandang sebagai nikmat anugerah dari Tuhan.

Sebaliknya ada sebagian wanita yang menghadapi peristiwa kehamilan dengan sikap yang negatif. Sikap negatif yang ditunjukkan oleh ibu itu berpangkal pada 2 kompleks gangguan psikologis, yaitu :

· Ketakutan untuk melahirkan dan kekhawatiran akan nasib anaknya yang akan dilahirkan.

· Rasa penolakan terhadap anak yang dikandungnya.

Mengenai ketakutan untuk melahirkan dan kekhawatiran terhadap anaknya dapat diuraikan menjadi 2 bentuk kecemasan :

1. Kecemasan terhadap diri sendiri, dan

2. Kecemasan terhadap anaknya 13.

· Ketakutan dam Kekhawatiran

1. Kecemasan terhadap diri sendiri

Umumnya kecemasan berhubungan denngan kesehatan dan keselamatan, wanita cemas terhadap kemungkinan komplikasi waktu hamil dan waktu bersalin, cemas terhadap nyeri waktu bersalin, kekhawatiran tidak segera memperoleh pertolongan ataupun perawatan yang semestinya dan mungkin pula cemas terhadap ancaman bahaya maut. Bahkan kadang-kadang dapat timbul asa cemas yang tidak langsung berhubungan dengan proses kehamilannya, misalnya soal rumah tangga, mata pencaharian suaminya ataupun mengenai hubungan dengan suaminya.

2. Kecemasan terhadap anaknya

Kecemasan ini antara lain mengenai cacat, perlukaan, keguguran, kematian dalam kandungan, kemungkinan beranak kembar, dan kapasitas anaknya.

Berbagai perasaan cemas ini akan mudah timbul apabila si ibu itu sendiri telah mengalami, melihat, ataupun mendengar hal-hal yang tidak diinginkan telah menimpa tetangganya, saudaranya, atau temannya.

· Rasa penolakan

Tidak semua bayi yang dilahirkan di dunia ini diinginkan oleh keluarganya sehingga tidak jarang dilakukan usaha-usaha untuk menghilangkan atau menggugurkannya. Catatan statistik tidak dapat menunjukkan angka yang pasti karena pengguguran umumnya dirahasiakan. Yang masuk catatan statistik apabila usaha menggugurkan tidak berhasil dan atau menimbulkan komplikasi-komplikasi sehingga wanita terpaksa dirawat di rumah sakit. Rasa penolakan terhadap anak tidak selalu berupa usaha untuk menggugurkan, akan tetapi sering dicerminkan dalam sikap tingkah laku si ibu, misalnya terkejut, menyesal waktu mengetahui bahwa ia hamil atau bersikap murung selama kehamilan. Rasa penolakan akan dipersubur jika dari pihak suami juga tidak menginginkan anak itu. Dalam pada itu kehamilan yang terjadi di luar perkawinan yang sah tidak selalu disertai rasa penolakan terhadap anak yang dikandungnya 14.

C. Masa Kehamilan dan Kecemasan

a. Trimester pertama

Adaptasi psikologik terhadap kehamilan bervariasi pada perjalanan kehamilan 12. Setelah hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa wanita tersebut hamil, beberapa perubahan penting terjadi pada minggu-minggu berikutnya.

§ Perubahan dalam harapan-harapan seperti rancangan karir, kebebasan individu, dan menjadi seorang ibu.

§ Perubahan pada konfirmasi tubuh seperti kegemukan dan timbulnya garis-garis pada perut.

§ Perubahan dalam hubungan dengan individu lain.

Perubahan diatas menyebabkan wanita hamil merasa cemas, gusar, ketakutan, dan perasaan panik. Dalam pikiran kehamilan merupakan ancaman, kegawatan, menakutkan, dan membahayakan diri mereka. Mereka tidak hanya menolak kehamilan akan tetapi berusaha pula untuk menggugurkan bahkan mencoba bunuh diri 14.

Komplikasi kehamilan pada trimester ini adalah hiperemis gravidarum dan abortus.

– Hiperemis Gravidarum

Kehamilan yang paling sering disertai gangguan psikis adalah hiperemis gravidarum 15. Hiperemis gravidarum selain disebabkan kelainan organik (hiperaciditas lambung, kadar HCG yang tinggi), faktor-faktor psikis sering menjadi dasar penyakit ini misalnya ketidakmatangan psikoseksual, pertentangan dengan suami atau dengan ibu mertua, kesulitan sosial ekonomi, ketakutan atau kecemasan dalam persalinan nanti 16. Muntah-muntah yang berlebihan merupakan komponen reaksi psikologis terhadap situasi tertentu dalam kehidupan wanita. Tanpa itu biasanya wanita hamil muda hanya menderita rasa mual dan muntah sedikit-sedikit (emesis gravidarum) 5.

– Abortus

Abortus habitualis dapat disebabkan oleh faktor-faktor psikologis seperti pertentangan emosional yang telah ada sebelumnya atau yang timbul selama kehamilan. Pemikiran dan kecemasan/ketakutan akan beban-beban dan tanggung jawab dalam hubungannya tugas sebagai istri/ibu, akan menimbulkan pertentangan emosional yang hebat pada seorang muda usia mungkin pula abortus habitualis dipengaruhi kecemasan akibat kurangnya perhatian atau pengertian dari pihak suami dan kurangnya bantuan moral dari pihak keluarga, kawan-kawannya serta dari pihak dokter 16.

b. Trimester kedua

Dengan berlanjutnya proses kehamilan, wanita hamil mengalami perubahan fokus emosi. Pada trimester kedua ini identifikasi kehamilan sebagai konsep abstrak telah berubah menjadi identifikasi yang nyata 6. Pada masa ini wanita cenderung untuk memikirkan kesehatan kandungannya, keadaan janin, dan berfantasi akan angan-angan yang akan dicapainya pada lelahiran nanti 12.

c. Trimester ketiga

Selama periode ini sebagian besar wanita hamil dalam keadaan cemas yang nyata. Sebagian belum pernah merasakan tingkat kecemasan ini sebelumnya dan yang lainnya dapat mengatasi kecemasan tersebut dengan baik 7. Alasan yang mungkin menyebabkan peningkatan kecemasan adalah kecemasan mengenai ketakutan untuk melahirkan dan kekhawatiran terhadap anaknya 14.

Komplikasi obstetri pada trimester ini adalah pre-eklamsi dan eklamsi.

Ø Pre-eklamsi dan Eklamsi

Pada penyelidikan akhir-akhir ini menunjukkan kemungkinan bahwa pre-eklamsi dan eklamsi mempunyai latar belakang psikosomatis 5. Secara psikologis penyakitnya menunjukkan diri dalam sikap yang kurang wajar, perasaan bersalah, berdosa ataupun cemas terhadap kehamilannya, dan kadang-kadang walaupun jarang ada kecenderungan untuk bunuh diri 8.

Ø Partus prematurus

Partus prematurus dapat disebabkan oleh ketegangan psikis, tekanan kehidupan modern, dan diikutsertakan wanita dalam industri. Selanjutnya dapat dibuktikan bahwa frekuensi prematuritas diantara wanita-wanita yang bekerja di kota-kota besar makin meningkat dari tahun ke tahun. Demikian pula wanita yang belum nikah sering melahirkan sebelum waktunya, sehingga kehamilan diluar perkewinan dapat dianggap sebagai faktor etiologik bagi prematuritas 16.

D. Penanggulangan Kecemasan Dalam Kehamilan

Seorang ibu yang tabah akan berusaha menguasai keadaan dan menganggap saat melahirkan sebagai suatu puncak yang telah dapat dilalui akan mendatangkan kebahagiaan. Keadaan tersebut tidak demikian bila ibu itu tidak kuat jiwanya sehingga
ia akan dihantui rasa cemas. Pemeriksaan psikiatrik harus dilakkukan pada wanita hamil yang pada anamnesa menunjukkan secara psikologis berisiko tinggi.

Kebutuhan ketergantungan selama kehamilan terdapat pada sebagian besar wanita hamil. Mereka percaya pada pengobatan dan anjuran-anjuran yang diberikan oleh dokter. Penanganan efektif yang terbaik adalah hubungan yang baik dan erat antara pasien dan dokter 12.

Tidak boleh dilupakan agar terselenggara hubungan batin yang sebaik-baiknya, sehingga usaha memberi pertolongan dapat dipermudah diantaranya adalah pengawasan dan bimbingan bagi wanita hamil untuk bersikap jiwa positif dan mengurangi ataupun mengubah sikap jiwa yang negatif.

Dengan pemberian penerangan, penjelasan, dan pengertian mengenai hal-hal yang berhubungan dengan rumah tangga termasuk peristiwa kehamilan dan persalinan diharapkan dapat menimbulkan sikap jiwa yang positif. Adanya pengertian dan perhatian dari pihak suami, keluarga, teman-teman, dan dokter dapat memberikan dukungan moral yang diperlukan dan untuk mengembalikan kepercayaan pasien. Pengertian dan perhatian dianggap sama baiknya dengan pengobatan medis 5.

 

DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan, H.I., Sadock, B., Greeb, j.a., Sinopsis Psikiatrik Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis, Bina rupa, Jakarta, 1994.

2. Benson, R.C., Psychologic Aspects of Obstetric and Gynecology in Current Obstetric and Gynecology Diagnosis and Treatment, Sixteenth Ed., Lange Medical, California, 1984.

3. Maramis, W.F., Ilmu Kedokteran Jiwa, Airlangga University Press. Surabaya, 1986.

4. Kosim, H.M.C., Aspek Kejiwaan dalam Kebidanan. Naskah Lengkap KOGEL, Jakarta, 1970.

5. Wiknjosasttro, H. Ilmu Kebidanan. Edisi Ketiga. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 1991.

6. Nuhriawangsa, I., Keadaan Kecemasan dan Depresi pada Emesis Gravidarum di RSUP Dr. Sardjito dan RB. Trisnowati Yogyakarta, majalah jiwa, Thorax. XXI, No. 3, 1980.

7. Lief, H., Comprehensive Texbook of Psychiatry, The William and Wilkins Co, Baltimore, 1967.

8. Subandi, Hubungan Antara Tingkat Religiusitas dengan Kecemasan pada Remaja, Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta, 1988.

9. Anwar, A.H., Setyonegoro, K., Iskandar, Y., Tiga Dimensi Anxietas. Sebuah Pandangan Konseptual, dalam Anxietas Pendekatan Klinik, Biokimiawi, dan Farmakologi, Yayasan Darma Usaha, Jakarta, 1980.

10. Solomon, P. and Patch , V.D., Handbook of Psychiatry. 3rd edition. Lange Medikal Publication Los Altos, California, 1971.

11. Whalen, J., Psychologic Aspects of Pregnancy, Delivery, and Puerperium in Manual of Obstetic, Diagnosis and Therapy. Third edition. Little Brown, Boston, 1987.

12. Benson, R.C., Psychologic Aspect of Obstetrics and Gynecology in Current Obstetric and Gynecology Diagnosis and Treatment. Sixtenth edition. Lange Medical California, 1989.

13. Hanim, L., Nuhriawangsa, L., Sumarni, Keadaan Kecemasan dan Depresi pada Emesis Gravidarum di RSUP. Dr. Sardjito dan Klinik Trisnowati Yogyakarta,. 1988. Majalah Psikiatri, vol. 21 (3) : 73-79.

14. Chamidoen Kosim, H.M., Aspek Kejiwaan Dalam kebidanan. Naskah Lengkap Kongres Obstetri Ginekoligi Indonesia I. Jakarta, 1970.

15. Hudono, S.T. Peranan Psikosomatik Pada Hiperemis Gravidarum. Naskah Lengkap Kongres Obstetri Ginekologi Indonesia II. Surabaya, 1973.

16. Sarwono Prawirohardjo. Klasifikasi Penyakit Jiwa dan Aspek Pengobatannya Ed. 3 Yogyakarta, 1973.

17. Pravirasari, J.E., Stress dan Kecemasan, Kumpulan Makalah dan Simposium, Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta, 1998.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 15, 2009 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: