RSS

Kista Hidatid pada Paru

12 Mar

Tumor jinak paru jarang dijumpai, di Indonesia hanya sekitar 2 % dari seluruh tumor paru. Kista paru adalah salah satu penyakit yang masuk kategori tumor jinak paru. Selain kista paru, tumor jinak lain yang juga sering dijumpai adalah hamartoma. Sedangkan tumor jinak lainnya yang jarang dijumpai antara lain fibroma, kondroma, lipoma, hemangioma, tumor neurogenik, papiloma, leiomiofibroma (1).

Kista paru termasuk penyakit yang biasanya tidak sengaja ditemukan pada pasien saat pemeriksaan rutin radiologis. Salah satu jenis kista paru yang kasusnya banyak ditemukan adalah kista hidatid paru. Penyakit ini sering ditemukan pada anak-anak dan terkadang tanpa disertai gejala serta tanda untuk waktu yang cukup lama. Prevalensi dari penyakit ini biasanya pada daerah-daerah peternakan yang secara langsung berhubungan dengan anjing karena anjing adalah host definitive atau hospes definitf dari parasit Echinococcus penyebab kista hidatid paru ini. Asia (termasuk didalamnya Indonesia), Canada, USA dan Eropa Utara termasuk daerah yang masuk kategori diatas (2).

Kista hidatid paru ini sangat berbahaya dan fatal terutama apabila kista ini pecah dapat menyebabkan shock yang berat. Selain itu sampai saat ini belum ada obat yang secara nyata dapat menyembuhkan hidatidosis. Dengan mengetahui secara dini adanya kista hidatid ini di dalam paru maka kemungkinan terjadinya kista ruptur atau pecah dapat dicegah serta kemungkinan terjadinya kista sekunder dari penyakit ini dapat diperkecil sehingga angka kematian akibat penyakit ini dapat dikurangi.

  1. Definisi

Penyakit hidatid paru adalah penyakit yang disebabkan infeksi oleh bentuk larva (kista hidatid) cacing pita genus Echinococcus dan ditandai dengan berkembangnya kista yang meluas. Infeksi ini terjadi pada manusia dan hewan mamalia seperti sapi, domba, babi, kuda dan mamalia lainnya. Dua tipe dari infeksinya adalah alveolar dan unilocular. Nama lain dari penyakit kista hidatid adalah hidatidosis, echinococcus disesase dan echinococcosis (3).

Kista hidatid paru adalah stadium kista larva cacing pita Echinococcus granulosus dan Echinococcus multilocularis, yang berisi kista anakan yang masing-masing mengandung banyak skoleks. Disebut juga echinococcus cyst dan hidatid (3).

  1. Etiologi

Penyebab Kista hidatid paru adalah larva cacing pita kelas Cestoda, famili Taeniidae, genus Echinococcus. Echinococcus mempunyai 4 spesies yaitu Echinococcus granulosus, Echinococcus multilocularis, Echinococcus vogelii dan Echinococcus oligarthrus. Diantara keempat spesies Echinococcus diatas yang paling sering menginfeksi manusia adalah E. granulosus dan E. multilocularis (2).

E. granulosus adalah cacing pita yang merupakan parasit pada anjing, anjing hutan, serigala dan kadang pada kucing. Cacing dewasa ukurannya sangat kecil, yaitu 3-8 mm. Larvanya dapat berkembang pada hampir semua mamalia, membentuk kista hidatid pada hati, paru, ginjal, dan organ-organ lainnya. E. multilocularis adalah spesies yang bentuk dewasanya biasanya parasit pada rubah dan hewan pengerat liar, sekalipun secara sporadik manusia dapat terinfeksi. Ini menyerupai E. granulosus, hanya ukurannya lebih kecil, panjangnya 1,5-3,8 mm dan larvanya membentuk kista alveolar atau multilokular bukan kista unilokular. E. vogelii, spesies yang ditemukan di Amerika tengah dan Amerika Selatan bagian utara. Bentuk dewasanya merupakan parasit pada golongan anjing, dan larvanya merupakan pejamu antara untuk larvanya paca, agouti, dan hewan pengerat lain (2).

C. Distribusi Geografis

Cacing E. Granulosus ditemukan diseluruh dunia, terutama di daerah-daerah iklim sedang daripada iklim tropik. Penyebarannya banyak ditemukan di daerah-daerah peternakan sapi dan domba, misalnya Amerika Selatan, Australia Selatan, Afrika, Eropa, RRC, Jepang, Filipina dan negara-negara Arab. Sedangkan cacing E. Multilocularis ditemukan di Amerika, Eropa Tengah, Eropa Timur, Alaska, Siberia, Balkan, Selandia Baru, dan Jepang (4).

  1. Morfologi dan Daur Hidup

Cacing dewasa ukurannya sangat kecil, berukuran 3-8 mm, tubuh terdiri dari skoleks, leher dan strobila. Skoleks bulat seperti bola, mempunyai 4 batil isap menonjol yang dilengkapi dengan rostelum berkait dan tersusun dalam dua baris yang berjumlah 30-36 buah. Leher cacing ini pendek. Strobila terdiri dari tiga proglotid, masing-masing terdiri dari proglotid muda, dewasa dan matang. Proglotid muda ke arah distal berbatasan dengan leher, berukuran paling kecil dan organ kelamin yang ada didalamnya belum dewasa (immature). Proglotid dewasa terdapat di tengah-tengah, organ kelamin sudah matang (mature), ovarium dua lobus, testes tersebar hampir memenuhi proglotid, uterus memanjang dari ovarium ke arah proksimal, porus genitalis sudah jelas dan terletak di tengah-tengah bagian lateral proglotid. Proglotid matang terletak di ujung distal (terminal), berukuran paling panjang dan paling lebar , uterus ditengah-tengah dan mempunyai cabang 12-15 buah dan berisi kurang lebih 500 telur. Telur berbentuk bulat, berukuran 30-37 mikron, dinding luar tebal dan tampak gambaran garis radier, dinding dalam telur mengelilingi embrio heksakan dengan 6 kait. Telur ke luar bersama-sama dengan tinja anjing atau karnivora lain. Bila telur tertelan oleh hospes perantara yang sesuai seperti domba, kambing, unta, babi, dan termasuk manusia, di dalam rongga duodenum menetas dan melepaskan embrio heksakan (onkosfer). Larva setelah melepaskan kait-kaitnya menembus dinding usus, menuju ke saluran limfe dan sirkulasi darah, selanjutnya terbawa ke organ-organ lain hospes perantara terutama otot, paru, hati, ginjal, limpa, otak, tulang, dan lain-lain. Larva dalam organ ini dalam waktu 1-5 bulan tumbuh menjadi kista hidatid yang berukuran 10-50 mm (4).

Kista hidatid dalam tubuh manusia berbentuk bulat dan berukuran besar, diameternya dapat mencapai 20 cm, berisi cairan jernih kekuning-kuningan. Dinding kista terdiri dari 3 lapis, lapisan paling luar berupa selubung semu yang terbuat dari jaringan hospes, lapisan di tengah berupa kutikel yang tebalnya kurang lebih 1 mm dan lapisan paling dalam berupa membran germinativum. Lapisan tengah dan dalam berasal dari zat-zat cacing ini. Perkembangan kista ini lambat, pembentukan protoskoleks berlangsung antara 1-2 bulan. Kista ini bila pecah melepaskan skoleks-skoleks cacing muda kemudian melekat pada mukosa usus halus sampai tumbuh menjadi cacing dewasa (4).

  1. Penularan

Larva Echinococcus ditularkan bila hospes perantara terutama manusia menelan telur yang berada dalam tinja hospes definitif (anjing atau kucing). Proses tertelannya telur pada manusia dapat terjadi melalui dua cara, yaitu melalui kontak langsung feses hospes definitif yang terdapat larva echinococcus dengan tangan penderita sehingga apabila tangan yang sudah terkontaminasi tersebut tidak dicuci dengan benar maka pada waktu orang tersebut mengambil makanan dapat tertular. Cara yang kedua yaitu melalui makan makanan daging hospes perantara yang dimasak kurang matang dan mengandung larva dari Echinococcus atau makan sayur-sayuran mentah yang dicuci tidak bersih /dengan air yang terkontaminasi. E. granulosus ini ditularkan bisa melalui kontak langsung feses yang terkontaminasi dari hospes definitif yaitu anjing, serigala dan kucing dengan tangan penderita atau melalui makan daging hospes perantara yaitu hewan mamalia (sapi, domba, kambing, babi, dan kuda) yang tidak diolah dengan baik, selain itu juga dari makan sayuran mentah yang tidak bersih waktu mencucinya. Pada E. multilocularis cara penularan kepada manusia juga melalui cara yang sama seperti dengan E. granulosus hanya saja hospes
definitifnya adalah serigala atau tikus sedangkan hospes perantaranya hewan mamalia (4).

  1. Aspek klinis

Hidatidosis pada manusia sangat berbahaya, skala resiko penyakit ini bergantung pada lokalisasi dan ukuran kista hidatid yang menghinggapi jaringan. Bila kista ini ditemukan pada organ-organ vital dan tulang, walaupun ukurannya kecil, namun dapat mengakibatkan kerusakan jaringan yang parah. Dalam jaringan tubuh karena pertumbuhan kista lambat, beberapa kista unilokular tidak terdeteksi sampai bertahun-tahun, hingga kista-kista tersebut bergabung menjadi sebuah kista yang ukurannya sangat besar, sehingga terjadi gangguan karena adanya desakan organ tubuh, di samping itu juga terjadi atrofi dan nekrosis jaringan (4).

Bila kista terdapat di paru-paru, umumnya jarang yang menyebabkan gejala hingga terjadi kompilkasi dan mungkin terjadi alergik. Di antara gejala ini yang paling sering terjadi adalah hemoptisis ringan, batuk, dispnea, sakit dada yang tidak menetap, palpitasi dan urtikaria. Didalam kista terdapat cairan (jernih-kekuningan), oleh sebab itu selama berada dalam lokasi jaringan yang dihinggapi sering terjadi kebocoran-kebocoran kecil. Cairan kista ini masuk ke sirkulasi alat-alat dalam dan dapat menimbulkan kepekaan pada penderita. Kebocoran-kebocoran cairan kista ini banyak mengakibatkan gejala alergi yang berbahaya, termasuk syok anafilaktik yang berat pada pasien, bahkan pernah dilaporkan berakibat fatal (penderita meninggal). Lepasnya jaringan kista dapat mengakibatkan terbentuknya emboli abses dan terbentuknya generasi kista baru (kista sekunder) pada organ-organ lain (4).

Dalam suatu kasus bila kista-kista pecah, selanjutnya melepaskan protoskoleks, lapisan germinativum, kapsul perindukan dan kista sekunder, benda-benda ini melalui sirkulasi darah dapat tersebar ke jaringan-jaringan lain. Kista yang pecah dapat disebabkan karena penderita batuk, otot tegang, kena pukulan, aspirasi, dan tindakan pembedahan. Setelah kista pecah selama 2-5 tahun tidak tampak adanya gejala hidatidosis sekunder. Kasus kematian yang diakibatkan oleh kista hidatid cacing ini paling banyak diakibatkan oleh kista sekunder (4).

  1. Klasifikasi

Penyakit Hidatid berdasarkan infeksinya dibagi menjadi dua yaitu :

  1. Penyakit Hidatid Unilokular

Infeksi dengan bentuk larva (kista hidatid) E.granulosus, ditandai dengan adanya pembentukan kista tunggal unilokular atau majemuk yang membesar. Dengan membesarnya kista gejala akan menghebat akibat desak ruang pada jaringan atau organ yang terkena (2).

  1. Penyakit Hidatid Alveolar

Infeksi dengan bentuk larva (kista hidatid) E. multilocularis, ditandai dengan invasi dan penghancuran jaringan karena kista melakukan pengelompokan kedalam membentuk kista kecil-kecil yang banyak jumlahnya yang membentuk sarang tawon pada organ yang terkena. Infeksi ini kemudian dapat bermetastasis (2).

  1. Gejala-gejala Klinis

Keluhan yang dirasakan penderita penyakit hidatid dapat bermacam-macam atau malah tanpa keluhan sama sekali. Keluhan-keluhan yang mungkin timbul akibat adanya infeksi larva Echinococcus antara lain:

  1. hemoptisis ringan
  2. batuk
  3. dispnea
  4. sakit dada yang tidak menetap
  5. palpitasi
  6. urtikaria

Gejala-gejala diatas tidak semua selalu ada dalam setiap kasus hidatidosis (4).

  1. Kriteria Diagnosis

Diagnosis penyakit hidatidosis didasarkan pada:

  1. Anamnesis dan Pemeriksaan fisik (4).

– Adanya keluhan-keluhan hemoptisis ringan, batuk, dispnea, sakit dada yang tidak menetap, palpitasi dan urtikaria tanda adanya riwayat penyakit yang mengarah pada keluhan-keluhan diatas perlu dicurigai.

– Adanya riwayat tinggal di daerah endemis, terutama yang daerah-daerah tempat peternakan dengan adanya kehadiran anjing-anjing piaraan juga perlu diperhatikan.

– Adanya riwayat bepergian ke daerah-daerah endemis sebelumnya perlu dicurigai.

  1. Pemeriksaan Laboratorium (4).

– Hematologik, adanya peningkatan jumlah eosinofil dapat memberikan petunjuk adanya kista hidatid, walaupun terkadang ada penderita hidatidosis yang menunjukkan jumlah eosinofil dalam batas normal.

– Uji serologik yang dapat digunakan sebagai pilihan adalah indirect haemagglutination test (IHT) dan bentonit floculation test (BFT). Selain itu untuk mendukung pemeriksaan pada suspek hidatidosis dapat juga dilakukan tes serologi lain yaitu tes kulit Casoni.

  1. Pemeriksaan Roentgen, foto toraks PA dan lateral. Gambaran foto toraks yang menunjang diagnosis hidatidosis yaitu:

– Adanya densitas bulat radioopaque dengan batas yang halus pada paru tanpa adanya reaksi paru disekitarnya.

– Adanya bayangan bulat radioopaque dengan densitas yang homogen.

– Adanya bayangan bulat dengan air-fluid level pada kista yang pecah pada bronkus (5).

  1. Diagnosis

Diagnosis pada hidatidosis ditegakkan dengan menemukan skoleks dari larva yang dikeluarkan bersama dengan cairan kista (4).

  1. Penatalaksanaan

Satu-satunya obat kemoterapi yang efektif adalah mebendazol. Pengobatan terhadap kista hidatid dianjurkan dengan pengangkatan kista melalui pembedahan. Pengeluaran cairan kista dapat dilakukan dengan penggantian formalin 10 % karena dapat mematikan protoskoleks dan merusak germinativum kista. Untuk gejala alergi tersangka hidatidosis dapat diberikan obat epinefrin atau antihistamin (4).

  1. Prognosis

Prognosis baik terutama pada penderita kista unilokular dan kista pada paru tersebut telah berhasil diambil dengan proses pembedahan (2,4).

  1. Pencegahan

Tindakan pencegahan harus bertujuan menurunkan angka infeksi pada penderita (4), yaitu :

  1. Hewan yang terinfeksi dan disembelih, semua jeroan (organ viseral) harus di musnahkan supaya tidak dimakan lagi.
  2. Meningkatkan kesadaran higienis dan sanitasi untuk menghindari tertelannya telur infektif yang berasal dari tanah, air, dan sayur yang terkontaminasi tinja anjing.
  3. Meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak untuk menghindarkan kontak, bermain, berdekatan dengan anjing atau kucing.
  4. Menjaga kebersihan dan kesehatan hewan piaraan terutama anjing dan kucing.
  5. Di daerah endemis, anjing harus dijauhkan dari tempat-tempat pemotongan.
  6. Tidak minum air mentah dan menghindari makan sayur mentah.

PEMERIKSAAN RADIOLOGIS

Pemeriksaan dengan sinar roentgen dapat mendukung dalam menegakkan diagnosis hidatidosis. Dengan cara ini dapat dideteksi adanya tersangka mengandung kista E. granulosus terutama gambaran khas pada paru (5).

Gambaran densitas bulat paru pada pemeriksaan radiologis dengan tanda khas yaitu densitas bulat dan halus tanpa ada reaksi jaringan paru disekitarnya. Gambaran tersebut bisa solid atau berongga dengan air-fluid level di dalamnya. Batasnya yang halus dan densitasnya yang homogen menunjukkan bahwa ini adalah kista yang penuh cairan. Untuk membedakan kista hidatid dengan efusi interlobaris yaitu dengan melihat fisura pada foto penderita, pada efusi biasanya berubah dalam beberapa hari sedangkan kista hidatid tidak berubah dalam beberapa bulan (5).

Gambaran densitas bulat berongga dengan air-fluid level didalamnya adalah gambaran kista hidatid yang berhubungan dengan bronchi dan sebagian isinya sudah dibatukkan

ke luar, sehingga terlihat bayangan tersebut (5).

DAFTAR PUSTAKA

1. Rasad, S.,Kartoleksono,S.,Ekayuda,I.,2001.,Radiologi Diagnostik., Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.,Jakarta., Hal 140-142.

2. Kornfeld, H.,Mark, E., 1999., Case 29-1999— A 34-Year-Old Woman with One Cystic Lesion in Each Lung., www.nejm.org\ search\journal of lung cystic\result.

3. Dorland., 2002.,Kamus Kedokteran Dorland.,Edisi 29.,Penerbit Buku Kedokteran EGC.,Jakarta.,Hal:2306

4. Samidjo, J.,2002.,Parasitologi Medik I Helmintologi Pendekatan Aspek Identifikasi, Diagnosis, dan Klinik.,Penerbit Buku Kedokteran EGC.,Jakarta., Hal:122-128.

5. WHO.,1995.,Petunjuk Membaca Foto Untuk Dokter Umum.,Penerbit Buku Kedokteran EGC.,Jakarta., Hal:68-69.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 12, 2009 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: