RSS

Trauma Kepala

11 Mar

Statistik dari negara-negara yang sudah maju menunjukkan bahwa cedera kepala mencakup 26% dan jumlah segala macam kecelakaan yang mengakibatkan seorang tidak bisa bekerja lebih dari satu hari sampai selama jangka panjang kurang lebih 33% kecelakaan yang berakhir pada kematian menyangkut cedera kapitis. Di luar medan peperangan lebih dari 50% dari cedera kapitis terjadi karena kecelakaan lalu lintas, selebihnya dikarenakan pukulan atau jatuh. Orang-orang yang mati karena kecelakaan antara 40% sampai 50% meninggal sebelum mereka tiba di rumah sakit. Dan mereka yang dimasukkan dalam keadaan masih hidup 40% meninggal dalam satu hari dan 35 % meninggal dalam satu minggu dalam perawatan.(6)

Jika kita meneliti sebab dari kematian dan cacat yang menetap akibat cedera kapitis, maka 50% ternyata disebabkan oleh cedera secara langsung dan 50% yang tersisa disebabkan oleh gangguan peredaran darah sebagai komplikasi yang terkait secara tidak langsung pada cedera. (9)

Cedera kepala baik terbuka maupun tertutup dapat mengganggu fungsi otak, yang pada akhirnya mungkin dapat menyebabkan kematian atau meninggalkan kecacatan. (6,9)

Berbagai macam akibat dari cedera kepala telah dikenal, misalnya komosio serebri, kontusio serebri, perdarahan epidura, perdarahan subdura, perdarahan intraserebral dan laserasi serebri. Dengan istilah komosio dan kontusio masalah gangguan kesadaran, sedangkan bentuk-bentuk perdarahan menyangkutkan masalah massa yang pada penanganannya nanti bila memang diperlukan akan melibatkan ahli bedah saraf. (5,6,7,9,10)

Dalam kaitannya dengan gangguan kesadaran ini, telah dikenal istilah-istilah somnolen, sopor, koma dan sebagainya yang kesemuanya tadi adalah merupakan penilaian yang bersifat kualitatif, sehingga masih memungkinkan terjadinya perbedaan penilaian antara pemeriksa yang satu dengan yang lain. (9)

Dengan adanya Glasgow Coma Scale sebagai pengukur derajat gangguan kesadaran yang telah dipakai sejak 20 tahun yang lalu dan bersifat kuantitatif, maka penilaian gangguan kesadaran menjadi lebih obyektif. Dalam manajemen cedera kepala, penilaian gangguan kesadaran dengan Glasgow Coma Scale ini memegang peran utama. (9)

Untuk keperluan klinis, berdasarkan skala ini cedera kepala dibedakan menjadi cedera kepala ringan, sedang dan berat yang penanganannya akan diuraikan secara singkat dalam makalah ini. (9)

II.A. DEFINISI CEDERA KEPALA DAN ETIOLOGI

Trauma kapitis adalah cedera kepala yang dapat menyebabkan kerusakan yang kompleks di kulit kepala, tulang tempurung kepala, selaput otak dan jaringan otak itu sendiri.

A. Commotio cerebri (gegar otak)

Adalah cedera otak karena terkena benda tumpul berat atau karena kejatuhan benda tumpul. Cedera akut dengan cepat menyebabkan pingsan (koma), yang pada akhirnya tidak selalu dapat disembuhkan.

B. Contusio cerebri

C. Trauma kapitis tertutup

Pada tulang kepala, termasuk di antaranya selaput otak, terjadi keretakan-keretakan. Dalam keadaan seperti ini, timbul garis/linea fractura sedemikian rupa sehingga menyebabkan luka pada daerah perifer a.meningea media, yang menyebabkan perdarahan arteri.

D. Trauma kapitis terbuka

Luka terbuka pada lapisan-lapisan galea tulang tempurung kepal durameter disertai cedera jaringan otak karena fractura impresi berat, akibatnya menyebabkan infeksi di jaringan otak. Untuk pencegahan, perlu segera dilakukan operasi dengan menjauhkan pecahan tulang dan tindakan seterusnya secara bertahap.

E. Fractura basis cranii

Fractura ini dapat terjadi di depan, tengah, atau di belakang.

Pada tempat tamparan bisa terjadi (6) :

1. Fraktur linier

2. Fraktur stelatum

3. Fraktur impresi ataupun tidak terdapat apa-apa. Hanya edema atau perdarahan subkutan saja.

Akibat cedera kapitis dengan berbagai macam memungkinkan pada “impact” si penderita bisa (5)

1. Pingsan sejenak lalu sadar kembali dan tidak menunjukkan kelainan apapun.

2. Pingsan beberapa jam, kemudian menunjukkan gejala-gejala “organic brain syndrom” untuk sementara waktu atau

3. Pingsan lama, lalu sadar namun menunjukkan defisit neurologik, bahkan

4. Kematian.

Secara umum, cedera kepala mudah dibedakan menjadi cedera terbuka dan tertutup. Untuk jenis yang tertutup, dapat disertai atau tidak disertai “impact”.

Sebagai akibat dari cedera tersebut otak dapat mengalami cedera, yang secara klinis dibedakan menjadi (9) :

A. Cedera otak primer

B. Cedera otak sekunder

A. Cedera Otak Primer (9)

Dengan istilah primer diartikan bahwa cedera yang ada benar-benar timbul pada saat terjadinya cedera.

Termasuk dalam kelompok ini adalah :

1. Cedera Otak Fokal

2. Cedera Otak Difus.

1. Cedera Otak Fokal

Pada cedera otak fokal ini, secara makroskopis terlihat adanya lesi fokal yaitu :

a. Perdarahan Epidura Akut

b. Perdarahan Subdura Akut

c. Kontusi dan Perdarahan Intraserebral

a. Perdarahan Epidura Akut

Hematom terdapat di luar durameter, kebanyakan di daerah temporal dan temporo-parietal, sebagai akibat dari pecahnya vasa meningea media, dimana pada 2/3 kasus berasal dari arteri dan 1/3 kasus lainnya berasal dari vena. Kadang-kadang juga berasal dari sinus venous terutama di daerah parieto-oksipital dan daerah fossa posterior.

Meskipun perdarahan epidura ini relatif jarang terjadi (0,5 % dari keseluruhan cedera kepala dan 9 % dari cedera kepala yang disertai koma), tetapi bila ada dan segera dilakukan tindakan operasi, prognosisnya sangat baik. Angka mortalitas dari perdarahan epidura adalah 0 % bila penderita sadar, 9 % bila “obtunded” dan 20 % bila penderita sudah dalam keadaan koma. (9)

Ciri khas pada hematom epidural adalah terdapatnya interval bebas antara saat terjadinya cedera dan tanda pertama yang berlangsung beberapa menit sampai beberapa jam. (6)

Gejala neurologik yang terpenting adalah pupil mata anisokor yaitu pupil ipsilateral melebar (lateralisasi). (6)

b. Perdarahan Subdura Akut

Jenis perdarahan ini lebih sering terjadi bila dibandingkan dengan perdarahan epidura.

Didapatkan pada 30 % kasus cedera kepala berat oleh karena pecahnya “bridging vein”.

Perdarahan ini dapat disertai atau tanpa disertai adanya fraktur tulang kepala.

Oleh karena letak hematom di bawah durameter maka jaringan otak di bawahnya biasanya juga mengalami kerusakan, sehingga prognosisnya lebih jelek bila dibandingkan dengan perdarahan epidura. (9)

Oleh karena hematom subdural sering disertai cedera otak berat lain, maka dibandingkan dari hematom epidural, prognosisnya lebih jelek secara klinis sukar dibedakan dengan hematom epidural yang berkembang lambat. Hematom subdural akut dan kronik memberi gambaran klinis suatu proses desak ruang yang progresif sehingga tidak jarang dianggap sebagai neoplasma atau demensia. (6)

c. Kontusi dan Perdarahan Intraserebral

Sering terjadi di lobis frontalis dan lobus temporalis meskipun juga dapat terjadi di serebelum dan batang otak. Pada pemeriksaan CT-scan akan terlihat gambaran “salt-and-pepper” yaitu adanya bercak-bercak hiperdens pada daerah hipodens (daerah udemateus).

2. Cedera Otak Difuss

Cedera otak ini disebut dengan istilah difus oleh karena secara mikroskopis tidak ditemukan adanya lesi yang dapat menimbulkan gangguan fungsi neurologik, meskipun pada kenyataannya pasien mengalami amnesia atau penurunan kesadaran bahkan sampai koma.

Penurunan kesadaran dan/atau kelainan neurologik tersebut di atas bukan disebabkan oleh karena penekanan ataupun distorsi batang otak oleh massa yang mendesak, tetapi lebih banyak disebabkan oleh kerusakan langsung pada batang otak atau jaringan serebrum. Pemeriksaan patologis telah membuktikan adanya kerusakan pada sejumlah besar akson mulai dari derajat yang ringan berupa regangan sampai derajat yang lebih berat berupa disrupsi/putusnya akson. Manifestasi klinisnya pada umumnya tergantung pada banyak sedikitnya akson yang mengalami kerusakan.

Percobaan di laboratorium membuktikan bahwa benturan langsung (impact) bukan merupakan syarat untuk terjadinya cedera difus ini, tetapi justru proses ekselerasi-deselerasilah yang lebih banyak menyebabkan kerusakan difus pada akson. Bukti-bukti yang terakhir menunjukkan bahwa nodus Renvier sebagai bagian yang paling rawan pada struktur akson akan mengalami regangan (stretching) dan puntiran (twisting) pada setiap proses ekselerasi-deselerasi. Keadaan ini selanjutnya akan diikuti beberapa proses toksik yang pada akhirnya menyebabkan masuknya ion Ca secara berlebihan. Kerusakan ini bersifat reversibel selama akson mampu mengatasi influk ion Ca yang berlebihan ini. Regangan yang berlebihan juga akan merusak sitoskeleton dan mengganggu transport yang bersifat menetap yang pada akhirnya menyebabkan transport pada akson berhenti total. Pada pemeriksaan patologi anatomis lesi ini akan terlihat sebagai “axonal retraction ball” yang tampak sesudah 12-72 jam.

Pada keadaan yang berat proses ekselerasi dan deselerasi juga menyebabkan kerusakan jaringan pembuluh darah, sehingga pada CT-scan sering tampak gambaran bercak-bercak perdarahan di substansia alba mulai dari subkorteks, korpus kalosum sampai ke batang otak serta edema di daerah yang mengalami kerusakan. Jadi pada CT-scan hanya terlihat kerusakan yang seringkali menyertai kerusakan difus pada akson yang berupa bercak-bercak perdarahan yang lebih dikenal dengan istilah “tissue tear hemorrages”. (6)

Tergantung dari berat ringannya cedera otak difus ini, manifestasi klinisnya dapat berupa (5,8) :

1. Konkusi ringan

Pada keadaan ini didapatkan adanya gangguan fungsi neurologis yang sifatnya sementara misalnya amnesia, sedang penderita tetap sadar. Karena ringannya gambaran klinis yang ada, meskipun banyak terjadi, seringkali lepas dari perhatian. Yang paling ringan berwujud bingung (“confuse”) sedang pada yang lebih berat berwujud bingung dengan amnesia retrograd maupun amnesia post-cederatika.

2. Konkusi klasik

Pada keadaan ini bisa terjadi penurunan kesadaran sampai koma, yang akan membaik kembali dalam waktu kurang dari 6 jam.

Sebagian besar kasus tidak memberikan gejala sisa kecuali hanya berupa amnesia yang berkaitan dengan cederanya, meskipun ada juga yang disertai defisit neurologik yang sangat ringan.

3. Cedera Akson Difus (“Diffuse Axonal Injury” = DAI)

Keadaan ini ditandai dengan adanya koma yang berlangsung lebih dari 6 jam. Pemeriksaan radiologis tidak menunjukkan adanya lesi fokal baik berupa massa maupun daerah yang iskhemik.

Koma disini disebabkan oleh karena kerusakan langsung dari akson sehingga dipakai istilah cedera akson difus.

Untuk keperluan klinis dan penentuan prognosis, DAI dibagi menjadi :

a. DAI ringan. Di sini koma berlangsung selama 6-24 jam. Bisa disertai defisit neurologik dan kognitif yang berlangsung cukup lama sampai permanen. Jenis ini relatif jarang ditemukan.

b. DAI sedang. Koma berlangsung lebih dari 24 jam tanpa disertai gangguan fungsi batang otak. Jenis inilah yang paling banyak ditemui, terdapat pada 45 % dari semua kasus DAI. Dengan terapi agresif angka kematiannya adalah 20 %.

c. DAI berat. Koma berlangsung lebih dari 24 jam dan disertai disfungsi batang otak tanpa adanya proses desak ruang yang berarti. Angka kematiannya mencapai 57 % dan menyebabkan cacat neurologis yang berat.

B. Cedera Otak Sekunder (9)

Dengan istilah sekunder diartikan bahwa cedera yang ada, terjadi setelah cedera berlangsung, jadi merupakan akibat dari adanya cedera otak primer. Cedera otak sekunder dapat timbul setiap saat, jadi ada yang datangnya awal, tetapi juga dapat timbul beberapa waktu kemudian setelah cedera. Sebagai contoh tekanan intrakranial yang meninggi dapat terjadi segera sesudah ada perdarahan subdura, tetapi dapat pula timbul belakangan yaitu setelah terbentuk edema (“swelling”). Dari penelitian Graham dkk 1978 terbukti bahwa otopsi dari 151 kasus cedera kepala yang sebelumnya telah mendapat penanganan secara modern dan intensif, ternyata lebih dari 80 % menunjukkan adanya gambaran iskhemi. Iskhemik ini dapat disebabkan oleh beberapa keadaan seperti terlihat pada tabel berikut ini :

SYSTEMIC

INTRACRANIAL

Hypoxaemia

Arterial hypotension

Hypercarbia

Pyrexia

Hyponatremia

Anemia

Diffuse intravascular coagulopathy

Haematoma (EDH, SDH, ICH)

Brain swelling/oedema

Intracranial hypertension

Cerebral vasospasm intracranial infection

Epilepsy

Oleh karena cedera otak primer merupakan keadaan yang sudah terjadi, dalam penatalaksanaannya nantinya tidak ada tindakan lain kecuali hanya mengatasi. Sebaliknya untuk cedera otak sekunder karena ini merupakan komplikasi dari cedera otak primer maka harus diusahakan pencegahannya.

II.B. GAMBARAN KLINIK

Gejala klinis ditentukan oleh derajat cedera dan lokasinya. Derajat cedera otak kurang lebih sesuai dengan tingkat gangguan kesadaran penderita. Tingkat yang paling ringan adalah pada penderita gegar otak, dengan gangguan kesadaran berlangsung hanya beberapa menit saja.

II.C. KLASIFIKASI CEDERA KEPALA SECARA KLINIS (9)

Mengingat fasilitas pemeriksaan neuroradiologis berupa CT-scan masih jarang, maka agar dapat mengelola dengan baik, pasien-pasien cedera otak, khususnya jenis tertutup, berdasarkan gangguan kesadarannya (berdasarkan Glasgow Coma Scale + GCS) dikelompokkkan menjadi :

1. Cedera kepala ringan (Head Injury Grade I)

GCS : 13-15 bisa disertai disorientasi, amnesia, sakit kepala, mual, muntah.

2. Cedera kepala sedang (Head Injury Grade II)

GCS : 9-12 atau lebih dari 12 tetapi disertai kelainan neurologis fokal.

Disini pasien masih bisa mengikuti

/menuruti perintah sederhana.

3. Cedera kepala berat.

GCS : 8 atau kurang (penderita koma), dengan atau tanpa disertai gangguan fungsi batang otak.

Perlu ditekankan di sini bahwa penilaian derajat gangguan kesadaran ini dilakukan sesudah stabilisasi sirkulasi dan pernafasan guna memastikan bahwa defisit tersebut diakibatkan oleh cedera otak dan bukan oleh sebab yang lain.

Skala ini yang digunakan untuk menilai derajat gangguan kesadaran, dikemukakan pertama kali oleh Jennet dan Teasdale pada tahun 1974.

Penilaiannya adalah berdasarkan respons membuka mata (= E), respon motorik (= M) dan respon verbal (= V).

Pemeriksaan GCS tidak memerlukan alat bantu, mudah dikerjakan sehingga dapat dilakukan dimana saja oleh siapa saja.

Daftar penilaian GCS selengkapnya adalah seperti terlihat pada tabel di bawah ini.

Eye opening (E)

Spontaneous

To call

To pain

None

Motor response (M)

Obeys commands

Localizes pain

Normal flexion (withdrawal)

Abnorma flexion (decoraticate)

Extension (decerebrate)

None (flaccid)

Verbal respons (V)

Oriented

Confused conversation

Inappropriate words

Incomprehensible sounds

None

4

3

2

1

6

5

4

3

2

1

5

4

3

2

1

  • GCS sum score = (E + M + V); best possible score = 15; worst possible score = 3

II.D. DIAGNOSIS

Penegakan diagnosis berdasarkan :

a. gejala klinis

b. foto polos kepala

c. arteriografi karotis (sangat jarang dilakukan)

d. pemeriksaan CT-scan kepala

II.E. TATA LAKSANA (6,7,8,9,10)

Sudah disinggung di depan bahwa penatalaksanaan cedera kepala pada garis besarnya ditujukan pada 2 masalah pokok yaitu :

1. Mengatasi cedera otak primer

2. Mencegah terjadinya komplikasi berupa cedera otak sekunder.

Berdasarkan gambaran klinisnya seperti yang telah diuraikan di atas, maka penatalaksanaannya adalah sebagai berikut :

A. Penatalaksanaan cedera kepala ringan

1. Pemeriksaan umum untuk menyingkirkan kemungkinan adanya cedera sistemik.

2. Pemeriksaan neurologis.

3. Pemeriksaan darah untuk menentukan kadar alkohol, pemeriksaan urine.

4. Pemeriksaan x-foto kepala, untuk mengatahui

a. Ada tidaknya fraktur (linear, depresi)

b. Ada tidaknya fraktur facialis

c. Ada tidaknya pergeseran letak kelenjar pinealis (yang telah mengalami perkapuran)

d. Permukaan udara-cairan dalam sinus

e. Ada tidaknya pneumosefalus

f. Ada tidaknya benda asing

Perlu diketahui bahwa fraktur pada kalvaria didapatkan tiga kali lebih banyak daripada fraktur dasar tengkorak.

Fraktur dasar tengkorak sendiri jarang sekali terlihat pada foto polosnya, sehingga diagnosisnya ditegakkan berdasarkan tanda-tanda yang ada berupa hematom pada mata, rhinorrhea, otorrea, hemotimpanum.

5. Pemeriksaan x-foto vertebra servikal dan lain-lain bila memang diperlukan.

6. Pemeriksaan CT-scan

Idealnya dilakukan pada semua pasien.

Bila pada pemeriksaan awal tidak ditemukan kelainan, pada pemeriksaan ulang beberapa jam kemudian adakalanya nampak gambaran suatu massa.

Tergantung pada hasil pemeriksaan yang didapat, pasien dengan cedera kepala ringan dapat dipulangkan atau dapat pula dianjurkan untuk dirawat di rumah sakit.

Indikasi perawatan antara lain bila (6.9) :

1. Ada amnesia post-cederatika yang berlangsung lebih dari 1 jam.

2. Ada riwayat kehilangan kesadaran.

3. Ada fraktur kepala

4. Ada otorrhoea atau rhinorrhoea

5. Ada kelainan pada pemeriksaan CT-scan-nya.

Kepala pasien yang dapat dipulangkan, diberikan suatu lembaran peringatan (“warning sheet”), yang didalamnya tercantum sejumlah gejala dan tanda yang bila sewaktu-waktu nanti timbul hendaknya yang bersangkutan segera kembali ke dokter atau ke rumah sakit.

Gejala dan tanda-tanda tersebut antara lain adalah :

1. Ada mual dan muntah

2. Timbul sakit kepala yang hebat

3. Bila timbul kejang

4. Bila nadi sangat lambat atau sangat cepat

5. Bila keluar darah atau cairan dari hidung atau telinga.

B. Penatalaksanaan cedera kepala sedang

Pasien dengan cedera kepala sedang meskipun masih dapat mengikuti/menuruti perintah, dapat dengan cepat masuk ke dalam yang lebih berat yaitu derajat III. Oleh karena itu dalam penanganannya harus dipikirkan kemungkinan tersebut. Urutan pemeriksaannya adalah seperti pada cedera kepala ringan, hanya saja pemeriksaan CT-scan di sini harus dikerjakan sesegera mungkin.

Meskipun pada pemeriksaan CT-scan tidak ditemukan adanya kelainan, pasien harus tetap dirawat untuk keperluan observasi.

Pengobatan medikamentosa :

1. Decardon (deksametason) : bolus 10 mg i.v, disusul 4 mg tiap 6 jam.

2. Antikonvulsan : bolus 500 mg i.v. dalam 10 menit disusul dengan 100 mg tiap 8 jam selama 1 tahun

C. Penatalaksanaan cedera kepala berat

Pada pasien ini penatalaksanaannya dibagi dalam 7 tahapan yaitu :

A. Stabilisasi Kardiopulmoner

Yang perlu diketahui disini adalah :

a. Pada pasien dikerjakan intubasi (Pemasangan “endotracheal tube”) dan jika perlu dikerjakan trakheotomi, kemudian dilakukan hiperventilasi sampai pCO2 = 25-30 mmHg, untuk menurunkan tekanan intra kranial.

b. Dijaga agar jangan sampai terjadi hipotensi. Hipoksia dan hipotensi merupakan keadaan yang sangat membahayakan otak. Hipotensi sendiri sebenarnya bukan bersumber pada otak (kecuali pada stadium terminale dimana batang otak terganggu), melainkan berasal dari sebab lain yaitu dari adanya perdarahan, baik perdarahan yang nampak maupun yang tidak nampak (lihat tabel 3). Pemberian transfusi harus segera dilakukan bila Hb kurang dari 10 (Ht = 30).

Penyebab lain adalah mungkin karena adanya gangguan medula spinalis (dengan tetraplegi atau paraplegi), kontusi jantung, tamponade dan pneummothorax.

c. Pemasangan catheter.

Pada pasien dipasang Foley catheter dan “nasogastric-tube” (double lumen plastic catheter).

d. Pemeriksaan radiologik : servikal, thoraks, kepala, abdomen, pelvis, ekstremitas.

B.

Pemeriksaan umum

Pemeriksaan ini meliputi :

a. Kepala/leher

b. Thorax

c. Abdomen : cedera limpa, hepar, ginjal

d. Pelvis : perdarahan

e. Vertebra : cedera servikal biasanya menyertai cedera kepala.

C. Pemeriksaan neurologik

Termasuk dalam pemeriksaan ini adalah pemeriksaan :

a. GCS

b. Refleks pupil

Tanda awal dari herniasi lobus temporalis adalah dilatasi ringan pupil dan refleks cahaya melambat. Tanda awal dari herniasi central chepalic adalah miosis bilateral.

c. Gerak bola mata :

– Oculocephalic (“doll’s eyes”)

– Oculovestibular (Calorics)

d. Pemeriksaan motorik

e. Pemeriksaan sensorik

D. Penatalaksanaan cedera-cedera yang lain

E. Penentuan terapi

Tujuan :

1. Mencegah naiknya tekanan intrakranial.

Dapat memberikan :

a. Deksametasone (masih kontroversial)

b. Mannitol

2. Mencegah terjadinya bangkitan kejang

Dapat diberikan : Phenytoin.

F. Prosedur diagnostik

Termasuk dalam hal ini adalah pemeriksaan :

a. Ventrikulografi

b. Arteriografi

c. CT-Scan

G. Penentuan perlu tidaknya tindakan bedah saraf

Bila terdapat “midline shift” sebesar 5 mm atau lebih, perlu tindakan bedah saraf.(6)

Dengan tanpa melupakan sifat otak yang kurang menguntungkan dan mengacu kepada tindakan operasi, maka kita dapat menentukan indikasi pertolongan bedah pada kasus cedera kapitis. (8)

Cedera tertutup

1. Fraktur impresi

2. Perdarahan epidural

3. Perdarahan subdural

4. Perdarahan intraserebral

5. Operasi dekompresi misal kontusio berat atau edema.

Cedera terbuka

1. Perlukaan kranioserebral

2. Liquorhoea

3. Pneumoencephalik

4. Corpus alienum

5. Luka tembak

II.F. PROGNOSIS

Lebih kurang 80% penderita yang datang ke rung gawat darurat dengan cedera kepala ringan, sebagian besar penderita sembuh dengan baik.

10% penderita dengan cedera kepala sedang, masih dapat mengikuti perintah sederhana tetapi sering kali bingung dan somnolen, mungkin ada defisit neurologis fokal seperti hemiparesis. Sekitar 10-20% di antaranya menurun dan koma. Bila gejala neurologis membaik dan atau CT-scan ulangan tidak memperlihatkan lesi massa yang memerlukan operasi, penderita mungkin dapat dipulangkan dalam beberapa hari kemudian.

Penderita yang tergolong dalam cedera kepala berat, tidak dapat mengikuti perintah yang sederhana, walaupun sudah dilakukan resusitasi kardiopulmoner. Semua penderita mempunyai resiko morbiditas dan mortalitas yang tinggi.

 

DAFTAR PUSTAKA

1. Bedong A.M., 2001. Cedera Jaringan Otak : Pengenalan dan Kemungkinan Penatalaksanaan, Medika no 5 Mei 2001 : 321-325.

2. Danudipura dan Sayid M., 1997. Masalah Komutio, Cedera Otak Ringan dan Kontusio Cerebri, Warta IKA BI 10 (5) 1997 : 214-225.

3. De Jong W, 1998. Cedera Otak, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, 1998 : 1110-1114.

4. Lekmono PR, 1984. Cedera Otak dan Dasar-dasar Pengelolaan, Cermin Dunia Kedokteran (34) 1984, 32-35.

5. Mahar Mardjono, Priguna Sidharta, Cedera Kapitis dalam Buku Ajar Neurologi Klinis Dasar, Penerbit Dian Rakyat, Jakarta, 1978.

6. M. Nurjanto, Manajemen Cedera Kepala, dalam Kedaruratan Neurologi, Kumpulan Makalah Utama Temu Regional Neurologi XI Jateng dan DIY, Yogyakarta, 1994, hal. 1-11.

7. R. Cambell Connoly, Cedera Kapitis.

8. R.M. Padmo Santojo, Daryo Sumitro, Tindakan Bedah Saraf Cedera Kepala, Bagian Bedah Saraf FKUI, Penerbit FKUI, Jakarta, 1999.

9. R. Sjamsuhidayat, Wim de Jong, Cedera Kepala, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta, 1997.

10. Sabiston, Penatalaksanaan Orang Cedera Akut Cedera Kapitis dan Medula Spinalis, Buku Ajar Bedah, Bagian pertama, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta, 1995.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 11, 2009 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: