RSS

Torsio Testis

07 Mar

 

Sistem genitalia pria mencakup penis, testis, epididymis, vas deferens, vesikula seminalis dan prostat maka jika terjadi gangguan atau kelainan pada sistem genitalia pria tersebut akan terjadi gangguan fungsi reproduksi. Gangguan fungsi reproduksi ini dapat disebabkan bermacam-macam kelainan dari organ-organ genitalia diatas adalah salah satunya Torsi Testis (Linchan, 1994).

Torsi testis merupakan suatu keadaan dimana funikulus spermatikus terpuntir sehingga terjadi gangguan vaskularisasi dari testis yang dapat berakibat terjadinya infark daripada testis. Peristiwa ini biasanya terjadi pada laki-laki usia 8-20 tahun dan terjadinya mendadak. Akibatnya akan terjadi strangulasi suplai aliran darah ke testis yang bersangkutan dan bila dibiarkan berlangsung lebih dari 3-4 jam, menyebabkan terjadinya infark dan kemudian atrofi dari organ-organ bersangkutan.

Torsi testis bisa terjadi pada semua umur tetapi insidensi tertinggi terdapat pada lelaki dewasa muda dan dapat juga terjadi pada masa janin atau neonatus didalam rahim atau sewaktu persalinan. Torsi testis yang sering terjadi pada lelaki dewasa muda yaitu jenis torsi yang disebut sebagai torsi funikulus spermatikus intravaginalis. Sedangkan torsi testis yang sering terjadi pada janin atau neonatus biasanya torsi yang yang dikenal sebagai torsi funikulus spermatikus ekstravaginalis. (Linchan, 1994).

Torsi testis harus dianggap sebagai suatu keadaan gawat darurat karena dengan tindakan yang cepat dan tepat, testis yang bersangkutan dapat diselamatkan. Torsi testis dapat dikelola atau dikerjakan oleh seorang dokter dimanapun ia berada, karena untuk pengelolaannya tidak diperlukan sarana maupun fasilitas yang khusus, hanya dituntut keberanian dari dokter yang bersangkutan untuk menangani kasus-kasus seperti ini, karena soal kecepatan (waktu) merupakan faktor yang paling menentukan untuk menyelamatkan testis yang bersangkutan.

2.1. Definisi

Torsi testis adalah suatu keadaan dimana funikulus spermatikus terpuntir sedemikian rupa sehingga terjadi gangguan vaskulariasi dari testis dan struktur jaringan di dalam skrotum.

2.2. Anatomi

Testis adalah organ genitalia pria yang terletak di skrotum. Ukuran testis pada orang dewasa adalah 4x3x2,5 cm dengan volume 15-25 ml berbentuk ovoid kedua buah testis terbungkus oleh jaringan tunika albuginea yang melekat pada testis. Diluar tunika albuginea terdapat tunika vaginalis yang terdiri atas lapisan viseralis dan parietalis, serta tunika dartos. Otot kremaster yang berada disekitar testis memungkinkan testis dapat digerakan mendekati rongga abdomen untuk mempertahankan temperatur testis agar tetap stabil.

clip_image002

Secara histopatologis, testis terdiri atas kurang lebih 250 lobuli dan tiap lobulus terdiri atas tubuli seminiferi. Didalam tubulus seminiferus terdapat sel-sel spermatogenia dan sel Sertoli, sedang diantara tubulus seminiferi terdapat sel-sel Leyding. Sel-sel spermatogenia pada proses spermatogenesis menjadi sel spermatozoa. Sel-sel Sertoli berfungsi memberi makanan pada bakal sperma, sedangkan sel-sel Leyding atau disebut sel interstisial testis berfungsi dalam menghasilkan hormon testosteron.

Sel-sel spermatozoa yang diproduksi di tubuli seminiferi testis disimpan dan mengalami pematangan atau maturasi diepididimis setelah mature (dewasa) sel-sel spermatozoa bersama-sama dengan getah dari epididimis dan vas deferens disalurkan menuju ke ampula vas deferens. Sel-sel itu setelah dicampur dengan cairan-caidari epididimis, vas deferens, vesikula seminalis, serta cairan prostat menbentuk cairan semen atau mani.

clip_image004

clip_image006

Vaskularisasi

Testis mendapatkan darah dari beberapa cabang arteri, yaitu :

­ Arteri spermatika interna yang merupakan cabang dari aorta

­ Arteri deferensialis cabang dari arteri vesikalis inferior

­ Arteri kremasterika yang merupakan cabang arteri epigastrika.

Pembuluh vena yang meninggalkan testis berkumpul membentuk pleksus Pampiniformis. Plesksus ini pada beberapa orang mengalami dilatasi dan dikenal sebagai verikokel.

clip_image008

2.3. Patofisiologi

Torsi testis terjadi akibat perkembangan abnormal dari funikulus spermatikus atau selaput yang membungkus testis. Insersi abnormal yang tinggi dari tunika vaginalis pada struktur funikulus akan mengakibatkan testis dapat bergerak, sehingga testis kurang melekat pada tunika vaginalis viseralis. Testis yang demikian mudah memuntir dan memutar funikulus spermatikus. Biasanya hal ini terjadi pada masa pubertas dan sekitar 25 tahun, tetapi dapat terjadi pada usia berapapun

Torsi dari funikulus spermatikus dan testis juga dapat terjadi pada masa janin atau neonatus didalam rahim atau sewaktu persalinan. Perputaran terjadi pada funikulus bagian inguinalis diatas insersi tunika vaginalis dan dikenal sebagai torsi funikulus spermatikus ekstravaginal (Silvia dan Lorraine, 1995).

Torsi testis dapat terjadi setelah testis mengalami trauma, seorang pria yang melakukan aktifitas yang sangat berat atau dapat juga terjadi tanpa alasan yang jelas.

Arah dari torsi testis (dilihat dari kaudal) yaitu :

  • Testis kanan : arah puntiran mengikuti atau searah dengan jarum jam
  • Testis kiri : arah puntiran berlawanan dengan arah jarum jam

Gambar: Torsi Testis

2.4. Diagnosis

Diagnosis torsi testis didapat dari gejala gejala (anamnesis) dan pemeriksaan fisik.

2.4.1. Anamnesis

  • Timbul mendadak, nyeri hebat dan pembengkakan dalam skrotum, sakit perut hebat, kadang-kadang disertai dengan rasa mual dan muntah.
  • Testis yang bersangkutan dan dirasakan membesar.
  • Terjadi retraksi retraksi dari testis kearah kranial, karena funikulus spermatikus terpuntir tadi memendek

2.4.2. Pemeriksaan fisik

  • Testis pada sisi yang terkena sering lebih tinggi jika dibandingkan dengan sisi testis yang lain.
  • Testis umumnya sangat nyeri tekan dan elevasi tidak menghilangkan nyeri seperti sering terjadi pada epididimis akut.
  • Funikulus menebal, kadang-kadang dapat diraba suatu simpul.
  • Bila telah lama berlangsung maka testis menyatu dengan epididimis dan sukar dipisahkan, keduanya membengkak, timbul effusian, hiperemia, udema kulit dan subkutan

2.5. Diagnosis banding

1. Epididimis akut

Disebabkan oleh sejumlah organisme. Pada pria diatas usia 35 tahun, E. coli merupakan penyebab terlajim epididimistis, pada pria di bawah usia 35 tahun Clamydia Trochomatis merupakan organisme terlazim pada penyebeb penyakit ini. Gambaran klinisnya yaitu pada stadium akut mungkin ada nyeri, pembengkakan dan demam ringan. Pada pemeriksaan fisik ditemukan skrotum membesar, dapat ditemukan nyeri tekan pada funikulus spermatikus dan pada palpasi menunjukan epididimis yang nyeri dan menebal. Dapat sulit
membedakan epididimistis dari torsi testis. Elevasi ringan scrotum cenderung membuat epididimistis kurang nyeri, tetapi perasat ini mengeksaserbasi nyeri akibat torsi testis.

2. Orkhitis

Orkhitis merupakan peradangan testis. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pembengkakan testis kanan dan kiri. Orkhitis akut ditemukan sebagai penyulit penyakit virus, misalnya yang paling sering adalah parotitis epidemika.

3. Hernia inguinalis

Gejala berupa benjolan di daerah inguinal yang dapat mencapai scrotum. Benjolan dapat timbul pada saat berdiri atau mengejan. Terasa nyeri bila menjadi inkarserata.

4. Hidrokel Testis

Hidrokel testis merupakan pengumpulan cairan di dalam ruang antara kedua lapisan membran tunika vaginalis. Diagnosis hidrokel ditegakkan dengan tes transluminasi atau diapanaskopi positif.

5. Tumor Testis

Merupakan pertumbuhan sel-sel ganas didalam testis yang dapat menyebabkan testis membesar atau menyebabkan adanya benjolan di dalam skrotum.

Kebanyakan terjadi pada usia dibawah 40 tahun, penyebab pasti belum diketahui.

Beberapa faktor yang menunjang timbulnya tumor testis adalah :

– Testis undesensus.

– Perkembangan testis yang abnormal.

– Sindroma klinefelter

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik, kemudian juga dapat diketahui dengan pemeriksaan darah untuk petanda tumor Alfa Fetoprotein (AFP), Human Chorionic Gonadotropin (HCG) dan Lactic Dehydrogenase (LDH).

6. Verikokel

Adalah pelebaran abnormal (varises) dari pleksus pampiniformis yang mengalirkan darah dari testis. Lebih sering mengenai testis kiri. Biasanya tidak ada gejala yang menyertai varikokel, namun beberapa pria terdapat perasaan berat pada sisi yang terkena.

Pada pemeriksaan fisik terdapat massa yang teraba sebagai ‘sekantung cacing’ massa ini timbul pada posisi tegak tetapi dapat mengosongkan isinya, dan tidak teraba pada sisi berbaring. Perbaikan verikokel yaitu dengan cara pembedahan.

2.6. Terapi

Tindakan untuk mengatasi torsi testis terdiri dari 2 cara yaitu : detorsi atau reposisi manual dan eksplorasi atau dengan cara pembedahan.

Detorsi manual dapat dilakukan pada kasus-kasus yang dini atau merupakan tindakan awal bagi pasien sebelum dibawa ke rumah sakit. Tindakan ini dilakukan dengan mengingat arah torsi pada umumnya. Reduksi yang berhasil akan memberikan pemulihan segera untuk aliran darah ke tistis. Tindakn ini tidak boleh dianggap sebagai pengobatan atau terapi definitif dan eksplorasi gawat darurat harus tetap dilakukan pada kesempatan awal.

Reduksi manipulatif tidak dapat menjamin penyembuhan sempurna dan masih ada torsi dengan tingkat tertentu, meskipun pemasokan darah telah dipulihkan. Selain itu abnormalitas semula yang menyebabkan torsi masih tetap ada dan mungkin melibatkan testis pada sisi yang lain. Oleh karena itu fiksasi operatif kedua testis diharuskan.

Eksplorasi mutlak dilakukan pada setiap kasus yang diduga torsi. Testis harus dipaparkan tanpa ditunda-tunda lagi dengan membuat irisan ke dalam skrotum. Bila ternyata benar suatu torsi segera lakukan detorsi lalu elevasi beberapa saat, kemudian diamati apakah ada perubahan warna bila tidak ada tanda-tanda viabilitas lakukan orchidektomi, namun apabila testis masih baik lakukan orchidopeksi pada testis yang bersangkutan dan testis kontralateral.

Pada penderita-penderita dengan riwayat torsi yang berulang, sebaiknya pada penderita ini dilakukan orchidopeksi elektif.

KESIMPULAN

1. Setiap keadaan akut dari skrotum harus dipikirkan kemungkinan suatu torsi.

2. Torsi testis dapat terjadi pada semua umur.

3. Viabilitas sangat tergantung pada waktu antara timbulnya gejala pertama dan pada saat pembedahan.

4. Torsi testis merupakan keadaan kegawat daruratan sehingga pertolongan yang terlambat dapat mengakibatkan infark dari testis yang bersangkutan.

5. Gejala-gejala pada torsi testis meliputi : pembengkakan dan rasa nyeri pada skrotum yang bersangkutan testis terletak tinggi akibat pemendekan dari funikulus yang terpuntir.

6. Arah perputaran pada umumnya tertentu yaitu :

Testis kanan : searah dengan arah jarum jam.

Testis kiri : berlawanan dengan arah jarum jam.

7. Pertolongan harus dilakukan segera yaitu meliputi tindakan Eksplorasi bila harus ditunggu dicoba detorsi manual terlebih dahulu.


D A F T A R P U S T A K A

  1. Anonim, Torsi Testis, www.google.com , 2003
  2. Anonim, Torsi testis, www.medicastore , 2002
  3. Anonim, Ilmu Bedah dan Teknik Operasi, FK Surabaya, pp: 213-217
  4. Basuki B. Purnomo., Dasar-Dasar Urologi, Hal : 8-9
  5. Linchan W. M., 1994, Sabiston Buku Ajar Bedah, Bagian 2, EGC, Jakarta; pp:1083
  6. Mitchall P., 1995, Hamilton Bailey Ilmu Bedah Gawat Darurat, Edisi II, Gajah Mada Press, Yogyakarta; pp: 580
  7. Silvia A.P dan Lorraine M. W., 1995, Pathophysiology, Clinical Conceps Of Disease Processes, Edisi 4, Jakarta; pp: 1153

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 7, 2009 in Tak Berkategori

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: